Kamis, April 29, 2010

Kesalahan Besar

Kesalahan Besar
penulis: Rina S


Hari itu Azka kehilangan satu gigi seri bungsunya, lebih cepat 2 tahun dari usia seharusnya. Suatu hal yang seharusnya tidak terjadi kalau saya tidak lalai, lebih sabar dan lebih telaten menghadapi Azka. Ini mengingatkan saya pada nasehat mama yang sering diulangnya setiap kali menelpon atau berkunjung kemari. “Hati-hati jagain Azka.” Seiring bertambahnya usia Azka (2 tahun) seperti umumnya batita, cara Azka bereksplorasi untuk memuaskan keingintahuannya dengan cara yang kadang membahayakan dirinya. Seperti kegemarannya naik kursi lalu dilanjutkan dengan menaiki meja. Kalau di depan jendela, biasanya mencoba memanjat teralis. Kalau pintu depan di buka Azka langsung lari ke luar sambil tertawa kegirangan tanpa mengerti bahaya yang bisa terjadi. Tersandung karena ia tidak melihat pijakannya atau motor dan gerobak pedagang yang lewat dst.  ”Mengawasi anak bermain itu tidak bisa sambil lalu. Jangan disambil mengerjakan sesuatu,” lanjut mama. Nasehat yang seharusnya saya camkan dengan sungguh-sungguh. Penyesalan memang tidak akan mengubah keadaan tapi setidaknya ini menjadi peringatan keras untuk saya. Untuk menjadi mama yang baik dan sabar. Sabar dalam segala hal terutama membimbing Azka.
Seperti biasa, sesampainya saya di rumah – menjelang magrib, tugas bibi, panggilan kami untuk pekerja rumah tangga kami, selesai. Biasanya Bibi  masuk kamar, istirahat lalu tidur. Saya menemani  Azka menonton vcd, membaca buku atau membongkar-bongkar mainannya, kadang ketiga aktivitas itu dilakukan pada saat yang bersamaan karena meski Azka tengah main dengan bonekanya ia menginginkan dvd Barney atau serial vcd lainnya di stel. Seringnya, Azka menghabiskan waktu menjelang tidurnya (Azka biasanya tidur pukul 21.00 atau 21.30)  bersama saya dengan menonton, satu hal yang sebenarnya tidak saya sukai dan kadang membuat saya hilang kesabaran karena setelah dibujuk atau dialihkan perhatiannya dengan  mengajaknya membaca buku atau  bermain – mempraktekkan permainan edukatif yang saya baca dari buku -, Azka  keukeuh pengin nonton.  Hal ini disebabkan karena saya khawatir Azka lebih suka nonton dari pada baca buku atau bermain di luar rumah dengan teman sebayanya. Kekhawatiran yang terlalu berlebihan, komentar suami saya. Tapi bukankah itu yang terjadi pada kebanyakan anak-anak sekarang bahkan batita. Saya bukan menafikan manfaat audio visual tapi harus seimbang. “Nah, tugasnya Mama adalah supaya Azka tidak seperti itu. Bukan hanya kesal tapi action dan kreatif.” Iya, sich. Tapi menurut laporan si bibi, selain malam Azka hanya satu kali menonton tv, yaitu saat menjelang tidur. Pagi-pagi biasanya Azka minta bermain ke taman, kolam ikan dan main ayunan. Siangnya sibuk dengan mainannya sedangkan sore hari main di depan rumah, ‘ikut’ main bola dengan anak-anak tetangga yang sudah duduk di bangku sekolah dasar.
Tapi malam itu, Azka tidak meminta nonton. Ia sibuk dengan mainannya. Kira-kira pukul delapan saya lihat Azka menguap berkali-kali. “Bobo, yuk. Minum susu ya, Ka,” ujar saya. “Nggak,” jawabnya. ”Baca buku,” lanjutnya sambil melangkah meninggalkan mainannya yang berserakan lalu Azka menyodorkan buku yang berjudul Franklin dan peri gigi. Dan seperti hari kemarin, ia enggan melanjutkan saya membaca dan membuka ketika sampai pada halaman-halaman saat gigi si Bear patah lalu menyimpannya di dalam tas atau saat tidur, Bear juga beberapa teman franklin yang lain menyimpan gigi yang telah tanggalnya di bawah bantal. Saat pertama kali membacakan buku ini saya tidak pernah menakut-nakuti perihal gigi patah, malah maksud saya mengambil thema ini karena ingin mengajarkan Azka pentingnya gosok gigi karena selama ini Azka tidak mau gosok gigi. “Susu,” pintanya kemudian setelah ia menutup sendiri bukunya, lalu Azka mengambil posisi tidur di kasur lipat yang  diletakkan tak jauh dari tempatnnya bermain - setelah ia tertidur pulas saya akan memindahkannya ke kamar. Bergegas saya membuatkan susu. Dengan mata setengah terpejam Azka minum susu dari dotnya sementara saya terbaring disisinya seperti permintaannya. Saya yang pada dasarnya ‘pelor’, kalau dah nempel pasti molor, langsung di serang rasa kantuk ketika merebahkan diri di sampingnya.  Belum sampai saya  tertidur pulas terdengar suara Azka,”Udah,” katanya sambil menaruh botol susu yang telah kosong  di samping saya dan Azka sendiri terbangun dari tidurnya. Ini bukan kali pertama, Azka ‘batal’ tidur dan kembali bermain atau nonton. ”Azka, Mama bobo ya. “ Biasanya kalau ditinggal tidur Azka akan kembali ke samping saya, meminta susu lagi dan tertidur. Tapi malam itu saya jatuh tertidur sangat-sangat cepat sampai jeritan Azka membangunkan  saya.
Satu kaki Azka berada dalam bok mainnya dengan tangan memegang pinggirnya, saya lihat tetesan darah di bibirnya, ketika saya angkat dan dekati, ternyata darah menggenangi mulutnya. Saya panik dan bingung. Saya meminta Azka meludahkan darahnya tapi Azka menolak sambil terus menangis. Si bibi terbangun. Saya masih kebingungan dengan apa yang harus saya lakukan. “Sudah sampai mana suamiku,” bisik saya dalam hati sambil melihat jam dinding.  Pukul Sembilan kurang seperempat, masih hampir dua jam lagi suami saya sampai rumah – kami tinggal di Bogor dan suami saya bekerja di Jakarta. Tapi siapa tahu dia naik kereta pukul tujuh. Lalu saya memijit telp. “sudah sampai mana?” tanya saya. “Masih jauh? Kenapa?”. “Azka jatuh, giginya patah, berdarah. Apa dibawa ke dokter aja ya?” “Jatuh? Berdarah? Ya di bawa ke dokter aja sekarang.”
Setelah menutup telp saya masih bingung. Sebenarnya jarak rumah sakit besar dari komplek tempat saya tinggal tak sampai satu kilo, tapi jarak rumah saya ke gerbang kompek kurang lebih dua kilo dan kendaraan umum yang beroperasi hanya ojek dan itu pun mangkalnya agak jauh dari rumah saya.”Bibi panggilin ojek, Neng,” inisiatif si bibi memecahkan kebingungan saya. “Iya, Bi.”
“Kita ke dokter sayang, biar sembuh.” Azka meronta-ronta dari pelukan saya ketika saya menyebut kata dokter.”Nggak-nggak,” teriaknya di sela isak tangisnya. Seingat saya, saya atau pun suami tidak pernah menakut-nakuti Azka  dengan mengatakan hal-hal negative soal dokter. Mungkin dalam persepsi Azka dokter identik dengan ‘pemaksaan’ menelentangkannya di tempat tidur, menyenter mulut dan matanya atau suntikan (imunisasi)’. Tiga hal yang membuatnya kerap menjerit-jerit.
Tak lama si bibi datang dengan tergopoh-gopoh.”mana tukang ojeknya?” Tanya saya tak sabar.
“Lagi di susul pak Iwan (pak Iwan nama salah satu satpam di cluster kami). Di dekat pos sudah gak ada tukang ojek.”
Saya bergegas berganti pakaian setelah menitipkan Azka. Memasukkan dua hal penting dalam tas saya, buku catatan kesehatannya dan kartu asuransi. Tak lama ojek datang.
Ternyata gigi depan Azka tidak patah, seperti dugaan saya sebelumnya, akibat benturannya dengan pingiran boks mainannya, satu gigi depannya terangkat ke atas. Mata saya berkaca-kaca melihatnya. Rasa penyesalan mendera lebih hebat. Dokter di IGD merujuk untuk ke dokter gigi. Syukurlah, malam itu ada praktik dokter gigi. Singkat cerita, gigi Azka pun dicabut.
Azka terdiam dipangkuan saya tapi tidak tidur. Saya mendekap Azka lebih erat . “Maafin mama ya,” bisik saya. Permintaan yang untuk kesekian kalinya saya ucapkan malam itu. Dan Azka kembali menjawab dengan lirih,”Iya.” Saya tersenyum, berharap Azka mengerti dengan jawaban yang ia berikan. Bukan seperti saat saya bertanya,”Azka udah makan belum?” Azka akan menjawab ,”Belum.” Dan jika pertanyaan saya,”Azka udah makan?” Azka akan menjawab,”udah.”
Jarum dipergelangan tangan menunjukkan angka sebelas ketika saya keluar dari rumah sakit. Sepi. Jalanan lenggang. Tak ada taksi (di sini taksi hanya mangkal di Hotel Salak dan terminal barangan siang dan mall Botani Square) dengan penumpang kendaraan umum dan ojek saya sampai di rumah. Tak sampai 15 menit suami saya datang. Ia langsung memeluk Azka lalu mendudukkan di pangkuannya.“Azka jatuh?”Tanyanya pada Azka.”Azka kuat ya, sayang. Nanti giginya tumbuh lagi.” Tak ada raut kemarahan atau  tak ada teguran keras dari suami saya tapi justru itu yang membuat rasa bersalah saya bertambah besar. Padahal saat itu rasanya saya membutuhkan dan merasa pantas mendapat teguran keras atas kelalaian yang saya lakukan.
 “Iya. Jatuh.” Jawab Azka. Air matanya sudah kering, wajahnya kuyu dan tampak kelelahan. Tiba-tiba mataku terasa menghangat. Azka, maafin Mama …..(rs)


0 komentar:

Poskan Komentar