Senin, Januari 03, 2011

Babies the Movie


review by rina s
Sekilas film yang minim dialog ini hanya menggambarkan perbedaan bagaiaman seorang ibu  di setiap budaya (negara)   membesarkan seorang anak manusia. Namun sebenarnya pesan yang ingin di sampaikan film ini jauh lebih dalam. Film yang menceritakan tahun-tahun pertama kehidupan empat anak manusia dari 4 negara dengan kultur budaya berbeda. Ponijao dari Namibie, Bayar dari Mongolia, Mari dari Jepang dan Hattie dari San Francisco. 
Cerita dimulai dengan setting dua anak kecil Namibie yang tengah bermain dengan menggosok-gosokkan batu lalu berpindah pada seorang wanita Namibie yang tengah hamil tua tengah menaburkan serbuk pada perutnya yang buncit. Setting beralih ke Mongolia, di mana seorang wanita Mongolia yang tinggal di sebuah Yact di tengah savana tengah mempersiapkan kelahiran bayinya sampai akhirnya bayi itu lahir di sebuah rumah sakit.
Setting berikutnya di ambil di Tokyo Jepang. Gadis kecil yang diberi nama Mari lahir pada saat yang bersamaan  di San Francisco Amerika seorang bayi perempuan lain yang diberi nama Hattie lahir.
Begitu seterusnya, Setting film beralih dari satu negara ke negera berikutnya merekam dengan baik moment-moment penting dan indah dari perkembangan dan pertumbuhan keempat bayi tadi. Setiap ibu membesarkan bayinya dengan caranya yang unik dan bersandar pada adat, budaya, dan kebiasaan bagaimana mereka dulu di besarkan. Sebut saja misalnya, para ibu di Namibie dan Mongolia lebih banyak membiarkan bayinya ‘belajar’ sendiri.  Bayi dan anak-anak di Namibie dan Mongolia lebih banyak membiarkan bayinya bermain dan bereksplorasi bebas hampir tanpa pengawasan.
Sementara ibu di negara maju  yang diwakili Jepang dan Amerika menggunakan beragam ‘gadget’ untuk membantu perkembangan dan pertumbuhan anak mereka. Dari mulai buku, tools, dan diikutsertakan di sekolah bayi.
Dalam ini kita dapat melihat bahwa setiap bayi mempunyai kemampuan alami untuk belajar. Belajar dari apa yang dilihat, didengar dan respon yang diberikan atau diterima lingkungan dimana ia berinteraksi   sekalipun  itu binatang peliharaan atau hewan ternak. Dan menegaskan setiap ibu dibekali kemampuan mengasuh anak secara alami. 
Selesai menonton ini saya jadi teringat tokoh-tokoh besar dan perpengaruh yang lahir di setiap jaman. Ilmuwan dan  penguasa yang lahir dan dibesarkan sebelum beragam ‘gadget’ dan teori pertumbuhan dan perkembangan bayi di temukan. Bukan berarti beragam ‘gadget’ tidak penting untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan bayi, yang tak kalah penting adalah memberi waktu pada si kecil untuk belajar sendiri dari lingkungannya karena hal itu membentuk sikap dan karakternya. Hal ini diperlihatkan dengan sikap yang ditunjukkan Mari saat tidak berhasil memasangkan stik mainannya dengan Bayar yang bermain dengan tissue.
Mungkin ini yang disebut setiap bayi/anak adalah unik tapi mereka mempunyai kesamaan yang universal.
Saya masih mengira-ngira dengan panjanganya waktu yang dibutuhkan untuk membuat film ini. 2 tahun? 3 tahun?. btw, film ini recomended banget untuk para orang tua.

1 komentar: