Judul buku : A cup of Tea for Complicated Relationship
Penulis : Lygia Pecanduhujan dan Herlina P. Dewi (sebuah antologi)
Penerbit : Stiletto Book
Tahun : Agustus 2011 (cetakan 1)
Hal : 208 halaman
Dicinta dan mencintai kerap kali tidak berujung mulus pun ketika cinta itu telah di ikat dalam sebuah komitmen yang sakral yaitu pernikahan. Tidak juga berlaku hukum lamanya saling mengenal (pacaran) menjadi jaminan langgengnya sebuah ikatan pernikahan. Contoh sederhananya mungkin bisa kita lihat pada orang-orang di sekitar kita atau generasi sebelum kita. Bahkan tanpa diawali proses pacaran sebuah ikatan pernikahan bisa langgeng. Tapi mungkin itu cara Tuhan membuat kita lebih bijak dan arif memaknai hidup untuk kemudian disyukuri.
Jujur, saya pun tidak tahu akhir perjalanan cinta saya yang memasuki 6 tahun pernikahan. Ytapi tentu doa dan harapan kami ikatan ini langgeng sampai mau memisahkan ….so sweet…sorry kalau sedikit alay hehehe. Tuhan selalu punya rencana tidak terduga yang mungkin awalnya kita keheranan dan menganggap ‘ini’ tidak adil. Saya bisa membayangkan perihnya luka yang dialami Yani dalam tulisan yang berjudul Saat Harus Memilih. Tahun-tahun awal pernikahan yang biasanya begitu manis terlebih setelah kehadiran si buah hati malah menjadi saat yang menyakitkan. Menyadari kenyataan sosok lelaki yang dinikahi tak punya karakter, pendirian dan tidak bertanggung jawab. Sikap – sikap yang semestinya dimiliki seorang lelaki sejati sebagai suami dan ayah. Atau perihnya luka yang dialami Puput Happy yang dipoligami dengan iming-iming masuk surga (halah! apa jalan ke surga cuma itu) dan diminta tinggal serumah dengan istri kedua suaminya. Duh….
Well, kedua cerita itu memang paling menyentuh untuk saya karena saya sudah menikah dan mengalami rasanya ‘sudah total’ sebagai istri dan mama bagi anak-anak. Totalitas yang tentunya menyakitkan jika sampai dikhianati.
Banyak hal yang tidak bisa dikompromikan ketika cinta sudah menyangkut perbedaan agama. Saya kira begitulah sebagian besar pandangan masyarakat negeri ini jika bicara soal perbedaan agama yang harus disatukan dalam ikatan pernikahan. Tidak sesederhana ungkapan, satu Tuhan banyak Jalan. Atau tujuannya sama tapi jalannya berbeda. Dan ini berlaku tidak hanya pada agama tertentu. Begitupun perihal cinta sejenis. Bagi saya it’s complicated.
Tidak semua cerita dalam buku ini menarik atau memiliki greget, menurut saya, ada yang terlalu biasa.
Btw, buku yang membuat rasa stukur saya bertambah karena memiliki suami sepertimu hehehe .(this review dedicated for my husband)

mirip2 catatan hati Asma Nadia itu ya..?
BalasHapusYa, mirip catatan hati seorang istri asma nadia. salam kenal mba Yayun...:)
BalasHapusRasanya mengenal mbak Lygia dan mbak Puput Happy dari facebook tapi belum pernah baca buku ini.
BalasHapusTerimakasih resensinya mbak.
Oya, saya gak dapat tulisan mbak yang ikut lomba Resolusi itu, di mana yah :( (saya juga sudah ke blog yang satu lagi tapi gak dapat mbak ..)
belum saya posting mbak ada masalah di kode html bannernya yang error...
BalasHapus