Jumat, Januari 28, 2011

Mendidik dengan Hati

Judul buku : La Tahzan for the Teacher
Penulis : Irmayanti dan Gita Lovusa
Penerbit :Lingkar Pena Publishing
Tahun : Desember 2010
Hal : 195
Harga : Rp 37.000.-

 review by rina s

Profesi guru sebagai pendidik lebih banyak dipahami sebagai pengajar. Keberhasilannya ditentukan dengan besarnya nilai ujian dan seberapa banyak siswa-siswinya yang lulus ujian nasional. Tak heran jika akhirnya ada guru yang mudah memberikan label pada siswa-siswinya dengan istilah,’bodoh’, tidak berbakat’, tidak punya kemampuan’, nakal dsb.Padahal tidak semua kecerdasan bisa dinilai dengan angka. Salah satunya kecerdasan interpersonal. 

Namun tidak semua, masih ada guru yang mendidik dengan hati salah satunya bu guru Irma. Berawal dari catatan keseharian bu guru Irma yang harus menghadapi beragam permasalahan khas remaja siswa-siswi sekolah menengah atas di tempat ia mengajar yang ditulis di blog pribadinya (nengirma.multiply.com) kemudian di bukukan dengan tambahan berupa bahasan psikologis oleh Gita Lovusa, pada setiap catatan.
Buku ini memuat 21 catatan bu guru Irma. Doni, seorang siswa kelas yang kerap kali mengamuk dalam kelas tapi di lain waktu bisa sangat rajin dan penuh perhatian. Lalu ada kisah Rahmi yang suka menyakiti dirinya sendiri, seorang siswi yang mengaku telah ditiduri pacarnya, usaha keras bu guru Irma agar pelajaran yang dibawakannya menarik, kegelisahan bu guru Irma perihal hukuman pelanggaran yang kerap dikaitkan dengan hukuman fisik, kurikulum dan evaluasi (UN) yang hanya mengejar nilai dan ketika idealismenya sebagai pendidik tidak sependapat dengan kebanyakan guru lain . 

Tuturannya yang bersahaja dan usaha bu guru Irma untuk memahami, belajar dan mengambil hikmah dari setiap kejadian yang dialaminya bersama siswa/iswinya, membuat saya tidak bisa berhenti membaca. Saya larut dalam setiap kejadian yang di tulis bu guru Irma sekaligus belajar dan menyelami hikmahnya. Pembahasan psikologis dari Gita Lovusa cukup membantu pembaca khususnya guru dan orang tua, lebih memahami setiap persoalan remaja dan mencoba solusi yang ditawarkan berdasarkan analisis psikologis. Sebut saja misalnya kasus Rahmi. Alasan Rahmi suka menyakiti dirinya karena orang-orang terdekatnya, Ayah, ibu dan kakaknya yang harusnya menyayangi dan melindunginya tinggal berpencar dan tidak memperdulikannya. Yang dialami Rahmi satu dari sekian penyimpangan yang terjadi di masa remaja yang merupakan masa transisi dari kecil menjadi dewasa. Namun penyimpangan itu bisa di cegah jika kita mau mengenal lebih dekat dan berusaha memahami individu remaja (hal 20).

Namun ada pembahasan psikologis yang menurut saya terlalu teoritis dan bahasannya terlalu luas. Seperti bahasan psikologis dari catatan bu guru Irma yang berjudul Don’t Talk! Communicate! Pada catatan ini bu guru Irma menyadari siswa-siswinya tidak mempunyai cukup keberanian untuk mengemukan pendapat. Beraninya kalau keroyokan atau rame-rame. Bahasan teori psikologi komunikasi yang memang terkait dengan kasus ini rasanya tidak perlu panjang lebar karena disini siswa/siswi sebagai objek analisa psikologis. Dan yang diperlukan pembaca dalam hal ini orang tua atau guru lebih pada, kenapa dan bagaimana solusinya (how to). Begitu pun bahasan untuk catatan ‘Hati-hati membuat soal’. Perlukah menuliskan secara detail definisi evaluasi? Guru yang pembaca buku ini tentu tahu definisi evaluasi secara teoritis. Jika orang tua dan siswa/siswi yang membaca buku ini rasanya sudah cukup tahu apa itu evaluasi. Penjelasan teoritis apa itu evaluasi malah terasa menggangu dan seperti membaca teks pelajaran. Padahal inti masalahnya adalah soal ujian yang ‘dibuat’ susah. Begitupun soal bahasan untuk catatan ‘Guru Tua’. Jika seorang guru mempunyai idealisme sebagai seorang pendidik sudah bisa dipastikan dia kompeten sebagai guru (dengan atau tanpa sertifikat kompetensi) masalahnya adalah bagaimana jika idealisme itu terkikis beragam kebutuhan termasuk materi.

Lalu ada pembahasan psikologis yang berulang dengan isi hampir sama yaitu mengenai kecerdasan majemuk (hal 42 dan 52). Untuk kasus ini mungkin editornya kurang jeli ya seperti halnya ada kalimat yang sama yang dituliskan Gita Lovusa dan Irmayanti (173 dan 178), tanpa penjelasan siapa mengutip siapa. Dan sangat sayangkan rujukan yang digunakan Gita Lovusa untuk pembahasan psikologisnya hanya mencantumkan alamat situs (hasil googling?) tidak dibuat halaman daftar pustaka secara khusus dengan rujukan ilmiah lain sehingga lebih professional.

Lepas dari semua kekurangan buku ini pantas direkomendasikan untuk para guru dan orang tua.
‘Guru bisa memberi anak lebih banyak dari hanya sekedar nilai; harga diri, semangat, rasa hormat dan kecintaan pada ilmu’. (hal 82). (rs)

NB:bicara soal cover soal buku lebih pada soal selera tapi saya kurang sreg dengan buku bergambar wajah ‘modeling’ atau orang (bukan kartun). Apa kebanyakan buku terbitan FLP seperti ini ya…btw, sekali lagi ini soal selera, don’t judge the book by the cover…

Jumat, Oktober 08, 2010

Menjadi cantik, Gaya dan Tetap Kaya

Judul Buku : Menjadi Cantik, Gaya dan Tetap Kaya
Penulis : Prita H. Ghozie, SE, MCom, CFP.
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tahun : April 2010
Tebal : XXII + 320


 review by rina s

Kepandaian mengelola dan merencanakan keuangan untuk seorang perempuan menjadi penting bukan karena kelak jika setelah menikah umumnya perempuan yang memegang kendali atas keuangan keluarga juga karena perempuan lebih mudah tergoda dengan sale dan lebih memperhatikan komentar orang terutama berkaitan dengan penampilan dan mode. Jadi jika tak pandai-pandai, abislah uang dengan meninggalkan bukti setumpuk baju, sepatu, tas dan kosmetik.

Menyisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung adalah salah satu bentuk pengelolaan dan perencanaan keuangan yang baik. Mengabaikan menabung sama artinya dengan beranggapan bahwa tidak akan nada gejolak ekonomi, perusahaan tempat bekerja akan tetap berjalan sampai anda pensiun dan tidak ada keluarga, saudara atau teman kena musibah dan meminta bantuan.

Prita H. Ghozie seorang konsultan keuangan independent dan dosen di sebuah universitas ternama di Jakarta dalam bukunya yang berjudul ‘Menjadi Cantik, Gaya dan Tetap Kaya’ , memaparkan dengan cukup detail bagaimana uang dikelola dan direncanakan agar kita bisa menikmati hidup dengan indah dan sejahtera.

Langkah awal yang harus dilakukan untuk membenahi masalah keuangan adalah dengan mengetahui ‘Angka-Angka Anda’. Pertama , mengetahui berapa kekayaan bersih yang dimiliki. Tak perlu khawatir dengan cara menghitungnya karena buku ini dilengkapi kolom isian untuk memudahkan perhitungannya. Kedua, mengetahui keluar masuk arus kas. Langkah mudahnya selalu menuliskan pengeluaran dan pemasukan setiap bulan. Dengan melakukan kedua langkah tersebut kita akan mengetahui seperti apa kekayaan bersih yang dimiliki; positif, negatif atau seimbang.

Agar kekayaan bersih positif, bisa menabung – untuk dana darurat dan investasi yang perlu dilakukan mengurangi arus kas (berhemat), mencari tambahan penghasilan atau dua-duanya. Hemat bukan berarti menyiksa diri dengan ‘puasa’ tidak makan enak sama sekali, berpenampilan lusuh dan tubuh tidak terawat tapi menyesuaikan gaya dan pola hidup sesuai anggaran.

Hemat juga berarti bisa menetapkan prioritas, mana pengeluaran yang didahulukan dan mana yang bisa ditunda atau dihapus sama sekali. Contoh kasusnya sepasang suami-istri muda, Dinda dan Damar (hal 71) yang mengaku memprioritaskan anak. Namun setelah dilihat arus kasnya, ternyata pengeluaran untuk cicilan TV plasma 4 kali lebih besar dari asuransi pendidikan anaknya. Alasannya, karena menyicil menggunakan kartu kredit dengan bunga 0 persen. Ini sekaligus mengingatkan promo kartu kredit dengan bunga 0%, belanja kelipatan, belanja minimal, by one get one, diskon, dan poin reward yang diberikan membuat pengguna kartu kredit merasa tak bersalah jika pengeluarannya melebihi anggaran.

Pertanyaannya mungkin, bagaimana bisa tetap cantik padahal harus hemat? Resep dan trik untuk tetap tampil cantik, gaya dan hidup kaya tanpa mengelurkan banyak uang bisa didapatkan pada bab 5 bagian buku ini. Sebut saja misalnya, apa yang harus ada dilemari perempuan agar selalu siap tampil gaya. Bagaimana bisa tetap bersosialisasi bareng teman tanpa mengeluarkan banyak uang. Atau untuk si hobi belanja agar tetap bisa belanja tanpa rasa bersalah, buat shopping account dan tetapkan anggaran untuk belanja. Tahan diri untuk tidak belanja sebelum shopping account mencapai anggaran minimum untuk bisa belanja.

Bahasa yang digunakan dalam buku ini memudahkan orang awam memahami bagaiaman seharusnya uang dikelola dengan baik. Setiap bahasan disertai contoh kasus keseharian khas perempuan atau pasangan muda berkaitan dengan masalah uang. Seperti keluhan tidak bisa menabung karena penghasilan pas-pas an dan tak tahan godaan sale.

Selanjutnya, menjadi kaya dan tetap kaya. Kenapa harus kaya? Ungkapan Robert T. Kiyosaki dalam bukunya Rich Dad Poor Dad dapat dijadikan alasan yang tepat; uang mungkin bukan hal penting dalam hidup namun uang mempengaruhi segala sesuatu yang penting bagi anda-taraf pelayanan kesehatan yang bisa anda nikmati, kualitas pendidikan yang anda dan anak anda dapat peroleh, dan tentu saja tingkat kualitas hidup yang dapat anda jalankan. Kalau boleh saya tambahkan, uang pun berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas ibadah jika dikelola dengan baik.
Investasi dinilai pilihan tepat untuk menjadi kaya karena investasi bisa menaikkan modal paling besar (hingga 50%) dibanding menabung, deposito atau investasi emas. Yap, memang cukup menggiurkan tapi tanpa pengetahuan dan pengalaman bisa jadi uang yang diinvetasikan lenyap dalam hitungan menit. Kabar baiknya, seperti yang ditulis Prita dalam buku ini, tak perlu sekolah khusus untuk pandai –membaca situasi – berinvestasi. Yang diperlukan hanya pengetahuan dasar dan pengalaman yang didapat dari learning by doing. Dan belajar untuk memulai investasi bisa dimulai dengan nominal kecil.

Kepandaian Prita memaparkan beragam jenis investasi, resiko dan modal mental yang harus dimiliki seorang investor dengan ringkas dan mudah dipahami, tanpa beragam teori canggih seperti meruntuhkan kesan yang menyatakan bahwa investasi adalah dunia lelaki. Dan belajar untuk memulai investasi bisa dimulai dengan nominal kecil.
Bagian akhir buku ditutup dengan kisah perempuan-perempuan yang sukses dengan pilihan hidupnya. Menjadi full day mom namun membantu menopang ekonomi keluarga. Ya, untuk menjadi perempuan cantik, gaya dan tetap kaya tidak melulu harus berkarir di kantor. Find your passion, follow your hear and love what you do.
Kaya yang diinginkan setiap orang sangat mungkin berbeda. Ada yang ingin kaya karena ingin mempunyai banyak rumah dan mobil. Ada juga yang menilai kaya berarti bisa hidup indah, sehat dan sejahtera sampai tua dan mampu membiayai pendidikan anak setinggi-tingginya. Ada pula yang ingin kaya agar bisa berzakat, infak dan shodakoh sebesar-besarnya. Begitupun dengan standar tampil gaya dan cantik. Ciptakan ‘kaya’ yang anda inginkan, jadikan semangat untuk mencapainya dan jangan pernah lupa untuk mensyukuri apapun hasil akhir yang didapat.



Sabtu, September 18, 2010

Panduan Menu untuk Si Kecil



resensor : Rina Susanti

Judul Buku       : Menu Balita 30 Hari
Penulis             : Wied Harry Apriadji
Penerbit           : Pustaka Bunda
Tahun              : 2009
Halaman          : 128


Sempat bingung waktu si kecil Azka (2 tahun 4 bulan) mulai pilih-pilih makanan dan gak mau coba menu baru yang saya bikin. Mulai lah hunting buku menu balita dan buku ini sepertinya pas. Buku yang berisi panduan menu untuk si kecil dengan menu seimbang antara protein, karbohidrat, vitamin dan mineral. Lebih dari itu menu-menu di buku ini bisa juga dibuat dalam porsi lebih banyak untuk bisa dinikmati seluruh anggota keluarga lain. Untuk saarapan atau bekal makan siang si kakak. Sebut saja misalnya menu nasi goreng serai, puding wortel, kroket brokoli atau sup tomat kacang merah.

Salah satu menu contekan yang bisa dinikmati seluruh anggota keluarga adalah Nasi Gurih Hijau (hal 53).

Bahan:
100 g kacang polong
200 ml air
100 g beras
100 g udang kupas, potong 2 cm
50 g bawang bombai, cincang
3 butir bawang merah, cincang
2 lembar daun jeruk, buang tulang daunnya, iris tipis, cincang
1 batang serai, iris cincang
Garam
2 sdm minyak goreng
2 cm jahe
1 lmr daun pandan

Cara Membuat:
Blender kacang polong dengan 100 ml air. Tuang ke panci listrik (rice cooker), tambahkan beras dan air. Masukkan udang, bawang bombai, bawang merah, daun jeruk, serai, garam, minyak goreng, jahe dan pandan.Masak hingga nasi kesat dan uap air sedikit. Aduk rata nasi. Sajikan hangat.

Inspiratif bukan?

Tentang penulis.
Wied Harry Apriadji, seorang konsultan gizi, penulis buku dan host pada acara Harmoni Alam beberapa waktu lalu. Buku lain yang ditulisnya Variasi Makanan Sehat Bayi.