Kamis, Februari 17, 2011

Menulis antologi Kelahiran yang Mentakjubkan Lomba Menulis "Kehamilan yang Menakjubkan"

KEHAMILAN BAGI PEREMPUAN YANG SUDAH MENIKAH ADALAH SESUATU ANUGRAH MENAKJUBKAN SERTA LUAR BIASA YANG DIBERIKAN ALLAH KEPADANYA. TENTUNYA DALAM MENJALANI KEHAMILAN TERSEBUT, BANYAK HAL YANG MENAKJUBKAN TERJADI. MULAI DARI AWAL MENGETAHUI KEHAMILAN, KEMUDIAN PERUBAHAN FISIK, PERUBAHAN EMOSI, SAMPAI PERUBAHAN SIKAP YANG BISA JADI MENJADI “BAWAAN” ATAU NGIDAM SELAMA KEHAMILAN. SEMUANYA AKAN MENJADI KISAH YANG SELALU MENAKJUBKAN UNTUK DI INGAT.



Buatlah tulisan mengenai pengalaman selama menjalani kehamilan. Baik pengalaman selama kehamilan tersebut membahagiakan, menyenangkan, atau bahkan menyedihkan. Namun hal itu semua menjadi warna-warni membuat kehamilan yang di jalani menakjubkan dan mempunyai kesan tersendiri bagi anda dan bisa menjadi inspirasi dan pelajaran penting bagi para pembacanya kelak. Yuk, Ekspresikan semua ungkapan kata hatimu lewat lomba menulis pengalaman“Kehamilan yang Menakjubkan”. Syarat dan ketentuan :

1. Tulisan yang dibuat berdasarkan pengalaman nyata dengan tokoh diri sendiri, pasangan istri, atau yang lainnya. Tulisan pengalaman kehamilan tersebut, bisa ditulis berdasarkan kejadian pengalaman kehamilan yang sedang dijalani sekarang ataupun bisa juga pengalaman hamil yang pernah di alami.

2. Tulisan dibuat dalam bentuk file Words huruf Times New Romans ukuran 12. Spasi 1,5. Maksimal 3 halaman.

3. Kirim tulisanmu ke alamat email tim juri lomba menulis pengalaman “Kehamilan yang menakjubkan” ke : timlombamenulis@yahoo.com dan cc ke :aryamandira39@yahoo.com beri subjek : Kehamilan Menakjubkan

4. Sertakan pula biodata penulis yang terdiri dari: nama lengkap , nama FB/ Blog, email, alamat lengkap dan nomor telpon.

5. Batas pengiriman surat tgl 31 Maret 2011

6.Peserta wajib memposting informasi lomba ini di blog atau fb masing-masing dengan mentag Tri Wahyuni Rahmat, serta 25 teman lainnya. Yang memposting di blog dipersilahkan memberikan link/tautan postingan tema lombanya pada wall facebook Tri Wahyuni Rahmat. Buat setingan postingan untuk umum/everyone.



H a d i a h Juara 1. Uang sebesar Rp. 500.000 + sertifikatJuara 2. Uang sebesar Rp.300.000 + sertifikatjuara 3. Uang sebesar Rp. 200.000 + sertifikat Akan di pilih tulisan yang di anggap menarik oleh tim penyelenggara, dan apabila tulisan tersebut memenuhi persyaratan, maka akan dibukukan oleh yang di editori oleh Sari Azis (editor dan penulis) . Naskah tulisan yang masuk akan menjadi milik penyelenggara dan Keputusan Juri tidak dapat di ganggu gugat. Yuk mari menulis dan berkarya,Salam hangat.

The Miracle of Writing

-->

 
-->
Judul: The Miracle of Writing
Penulis: Iqbal M Dawami
Penerbit: Leutika, Yogyakarta
  Cetakan: I, desember2010
 review by rina susanti

Dalam sebuah bukunya (saya lupa judulnya), Fatimma Mernissi (intelektual muslim Maroko) berpendapat, bahwa menulis di pagi hari bagi seorang perempuan bisa menghilangkan satu kerutan di wajah.  Secara sederhana alasan ilmiahnya dapat dijelaskan sebagai berikut, menulis – mencurahkan pikiran dan perasaan – dapat mengurangi beban pikiran. Karena selain faktor usai, beban pikiran yang berat mempercepat datangnya kerutan di wajah.
Beberapa penelitian ilmiah memang membuktikan jika menulis berpengaruh positif pada kesehatan. Tak berlebihan jika kemudian menulis digunakan sebagai bagain dari terapi psikologis. Pasien yang terkena  penyakit kronis (kanker, leukemia, lupus dsb) ,trauma karena kehilangan orang yang dicintai atau trauma karena sebuah kekerasan. Karena dengan menulis – mencurahkan pikiran dan perasaan – beban pikiran berkurang
Menurut James W. Pennebaker Kekuatan luar biasa dari terapi menulis dalam menyembuhkan trauma fisik dan psikis adalah karena ketika seseorang menuliskan seluruh emosi dan pegalamannya dalam sebuah tulisan seorlah dia menempatkan seluruh pengalamannya dalam sebuah frame. Dengan begitu penulis dapat melihat dengan jelas masalah apa yang sebenarnya dihadapi. Dengan begitu penulis dapat menganalisis atau melihat persoalannya dengan proporsional. Dengan kata lain menulis sebagai langkah menuju tindakan refleksi.
Ada beberapa manfaat lain yang didapatkan dengan menulis diantaranya; mengubah cara berpikir, mengatasi kebiasaan buruk, membantu kesadaran personal dan sebagai alat transformasi diri. Melalui pencerahan yang tidak akan di dapat tanpa terlebih dahulu menuliskan apa yang dirasakan atau dialami. Dan semua manfaat itu bisa didapatkan dengan kebiasaan menulis Diary. Diary bukan sekedar tempat curhat dikala sedih dan senang tapi buah dari pemikiran yang setiap saat terlintas.
Dalam sejarah bangsa ini, telah terbukti menulis dapat mengusir rasa kesepian dan putus asa di pengasingan atau penjara. Fonding father Negara ini seperti Sukarno, Hatta, Tan Malaka dan tokoh lain, melahirkan karya besarnya di penjara atau pengasingan.
Tidak seperti kebanyakan buku tentang menulis yang lebih menitik beratkan pada ‘bagaimana menulis’. Buku ini lebih focus menyoroti bagaimana kegiatan menulis berpengaruh pada kesehatan, lahirnya sebuah peradaban dan memuat tokoh-tokoh yang tercerahkan dan mencerahkan dengan menulis. Sebut saja misalnya, Karl May dan Pipiet Senja, kesakitan atau kesulitan hidup yang dialami malah membuat mereka produktif menulis.     
Tapi jika menulis memang terbukti berdampak pada kesehatan dan jiwa kenapa ada penulis besar seperti Virginia Woolf atau Ernest Hemingway, yang malah mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri?  Itu karena kecenderungan penulis yang menjauh dari masyarakat dan tidak mengakrabi Tuhan.
Buku ini ditutup dengan nukilan empat  catatan harian pribadi yang berpengaruh pada sejarah sebuah bangsa. Sok Hok Gie, salah satunya.
‘ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan ikatan yang kuat, yakni menuliskannya.’ (sayyidina Ali ra)       

Sedikit tentang penulis:
M. Iqbal Dawami, dosen di sebuah universitas di Yogyakarta. Telah menulis beberapa buku berthema motivasi. Resensi bukunya hampir tiap minggu dimuat di media nasional. Sedikit tentangnya bisa dilihat di http://resensor.blogspot.com

Jumat, Januari 28, 2011

Mendidik dengan Hati

Judul buku : La Tahzan for the Teacher
Penulis : Irmayanti dan Gita Lovusa
Penerbit :Lingkar Pena Publishing
Tahun : Desember 2010
Hal : 195
Harga : Rp 37.000.-

 review by rina s

Profesi guru sebagai pendidik lebih banyak dipahami sebagai pengajar. Keberhasilannya ditentukan dengan besarnya nilai ujian dan seberapa banyak siswa-siswinya yang lulus ujian nasional. Tak heran jika akhirnya ada guru yang mudah memberikan label pada siswa-siswinya dengan istilah,’bodoh’, tidak berbakat’, tidak punya kemampuan’, nakal dsb.Padahal tidak semua kecerdasan bisa dinilai dengan angka. Salah satunya kecerdasan interpersonal. 

Namun tidak semua, masih ada guru yang mendidik dengan hati salah satunya bu guru Irma. Berawal dari catatan keseharian bu guru Irma yang harus menghadapi beragam permasalahan khas remaja siswa-siswi sekolah menengah atas di tempat ia mengajar yang ditulis di blog pribadinya (nengirma.multiply.com) kemudian di bukukan dengan tambahan berupa bahasan psikologis oleh Gita Lovusa, pada setiap catatan.
Buku ini memuat 21 catatan bu guru Irma. Doni, seorang siswa kelas yang kerap kali mengamuk dalam kelas tapi di lain waktu bisa sangat rajin dan penuh perhatian. Lalu ada kisah Rahmi yang suka menyakiti dirinya sendiri, seorang siswi yang mengaku telah ditiduri pacarnya, usaha keras bu guru Irma agar pelajaran yang dibawakannya menarik, kegelisahan bu guru Irma perihal hukuman pelanggaran yang kerap dikaitkan dengan hukuman fisik, kurikulum dan evaluasi (UN) yang hanya mengejar nilai dan ketika idealismenya sebagai pendidik tidak sependapat dengan kebanyakan guru lain . 

Tuturannya yang bersahaja dan usaha bu guru Irma untuk memahami, belajar dan mengambil hikmah dari setiap kejadian yang dialaminya bersama siswa/iswinya, membuat saya tidak bisa berhenti membaca. Saya larut dalam setiap kejadian yang di tulis bu guru Irma sekaligus belajar dan menyelami hikmahnya. Pembahasan psikologis dari Gita Lovusa cukup membantu pembaca khususnya guru dan orang tua, lebih memahami setiap persoalan remaja dan mencoba solusi yang ditawarkan berdasarkan analisis psikologis. Sebut saja misalnya kasus Rahmi. Alasan Rahmi suka menyakiti dirinya karena orang-orang terdekatnya, Ayah, ibu dan kakaknya yang harusnya menyayangi dan melindunginya tinggal berpencar dan tidak memperdulikannya. Yang dialami Rahmi satu dari sekian penyimpangan yang terjadi di masa remaja yang merupakan masa transisi dari kecil menjadi dewasa. Namun penyimpangan itu bisa di cegah jika kita mau mengenal lebih dekat dan berusaha memahami individu remaja (hal 20).

Namun ada pembahasan psikologis yang menurut saya terlalu teoritis dan bahasannya terlalu luas. Seperti bahasan psikologis dari catatan bu guru Irma yang berjudul Don’t Talk! Communicate! Pada catatan ini bu guru Irma menyadari siswa-siswinya tidak mempunyai cukup keberanian untuk mengemukan pendapat. Beraninya kalau keroyokan atau rame-rame. Bahasan teori psikologi komunikasi yang memang terkait dengan kasus ini rasanya tidak perlu panjang lebar karena disini siswa/siswi sebagai objek analisa psikologis. Dan yang diperlukan pembaca dalam hal ini orang tua atau guru lebih pada, kenapa dan bagaimana solusinya (how to). Begitu pun bahasan untuk catatan ‘Hati-hati membuat soal’. Perlukah menuliskan secara detail definisi evaluasi? Guru yang pembaca buku ini tentu tahu definisi evaluasi secara teoritis. Jika orang tua dan siswa/siswi yang membaca buku ini rasanya sudah cukup tahu apa itu evaluasi. Penjelasan teoritis apa itu evaluasi malah terasa menggangu dan seperti membaca teks pelajaran. Padahal inti masalahnya adalah soal ujian yang ‘dibuat’ susah. Begitupun soal bahasan untuk catatan ‘Guru Tua’. Jika seorang guru mempunyai idealisme sebagai seorang pendidik sudah bisa dipastikan dia kompeten sebagai guru (dengan atau tanpa sertifikat kompetensi) masalahnya adalah bagaimana jika idealisme itu terkikis beragam kebutuhan termasuk materi.

Lalu ada pembahasan psikologis yang berulang dengan isi hampir sama yaitu mengenai kecerdasan majemuk (hal 42 dan 52). Untuk kasus ini mungkin editornya kurang jeli ya seperti halnya ada kalimat yang sama yang dituliskan Gita Lovusa dan Irmayanti (173 dan 178), tanpa penjelasan siapa mengutip siapa. Dan sangat sayangkan rujukan yang digunakan Gita Lovusa untuk pembahasan psikologisnya hanya mencantumkan alamat situs (hasil googling?) tidak dibuat halaman daftar pustaka secara khusus dengan rujukan ilmiah lain sehingga lebih professional.

Lepas dari semua kekurangan buku ini pantas direkomendasikan untuk para guru dan orang tua.
‘Guru bisa memberi anak lebih banyak dari hanya sekedar nilai; harga diri, semangat, rasa hormat dan kecintaan pada ilmu’. (hal 82). (rs)

NB:bicara soal cover soal buku lebih pada soal selera tapi saya kurang sreg dengan buku bergambar wajah ‘modeling’ atau orang (bukan kartun). Apa kebanyakan buku terbitan FLP seperti ini ya…btw, sekali lagi ini soal selera, don’t judge the book by the cover…