Senin, Juni 09, 2014

Kumpulan Cerita Absurd Maggie Tiojakin


Judul Buku          : Selama Kita Tersesat di Ruang Angkasa
Penulis                 : Maggie Tiojakin
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Tahun                   : Juli  2013
Hal                          : 241
ISBN                      : 978-979-22-9616-7
Harga                    : rp.55.000,-









setelah satu tahun numpuk di rak, baru sempat diresensi ;p

Kumpulan Cerita Absurd

Selama Kita Tersesat di Ruang Angkasa adalah kumpulan cerita absurd yang ditulis Maggie Tiojakin. Penulis yang pernah mengecap pendidikan menulis kreatif di Boston AS dan  magang di beberapa media massa di Amerika. Selain sebagai penulis dan jurnalis, Maggie juga telah menerjemahkan beberapa cerita pendek dan dibukukan, salah satunya fiksi lotus, kumpulan cerpen klasik dunia. Beberapa cerita dalam buku ini pernah di terbitkan di beberapa majalah/jurnal dalam dan luar negeri. Buku ini terdiri dari empat belas cerita berbahasa Indonesia dan lima cerita  berbahasa Inggris.

Sebelum buku ini, Maggie telah menerbitkan satu buku kumpulan cerpen berjudul Balada Cing-Cing (2010) dan novel berjudul Winter Dream (2011)

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, absurd berarti aneh, tidak masuk akal atau mustahil.  Ehm, lalu apa bedanya dengan fiksi fantasi? Tentunya saya tidak akan mengupas semua cerita dalam buku ini. Hanya cerita yang menarik dan mewakili maksud absurd menurut saya.

Dibuka dengan cerpen berjudul Tak Ada Badai di Taman Eden, kisah seorang istri bernama Anouk yang tengah menatap langit mendung yang menumpahkan hujan. Tak lama suaminya, Barney datang. Kekakuan antara keduanya bisa terasa dari dialog yang diucapkan dan bahasa tubuh yang dideskripsikan penulis. Kekakuan yang disebabkan kejadian tiga tahun lalu, saat mereka bertengkar di kendaraan dalam perjalanan keluar kota. Barney lepas kendali sehingga mobil yang dikendarainya mengalami kecelakaan.

Diluar hujan belum berhenti, ketika Barney  menikmati makan malamnya dengan pizza yang dipesannya sementara Anouk memilih pergi ke ruang tamu.  Saat gemuruh langit menyebabkan aliran listrik mati, Barney melihat dengan mata dan kepalanya sendiri kepingan langit yang jatuh berurai ke tanah, satu demi satu...meninggalkan kekosongan luar biasa...(hal  9). Dan  apakah hubungan keduanya akan kembali setelah Barney tersenyum tulus dan berkata pada Anouk seolah untuk menenangkan,”Tidak apa-apa. Cuma badai biasa.”

Dia, Pemberani, bercerita mengenai rasa kekhawatiran dan ketakutan Zaleb  karena suaminya, Masaai,  memiliki hobi yang ekstrim. Gemar menentang alam dengan nyawa sebagai taruhannya. Karena bagi Masaai itulah cara merayakan hidup dan bahwa hidup adalah milik para pemberani.

Masaai melakukan base jumping yaitu menjatuhkan diri dari gedung tinggi dengan hanya menggunakan parasut biasa. Cave diving atau  menyelami gua-gua bawah air dengan kedalaman puluhan meter atau beli-skiing yaitu bermain ski di lereng gunung setelah dijatuhkan dari ketinggian tertentu oleh helikopter. Satu kali Zaleb bertekad melihat petualangan suaminya dari dekat. Ia ingin membuktikan bahwa hidup dan mati adalah sebuah abstraksi, seperti yang dipercaya Masaai selama ini.

Cerita yang juga merupakan judul buku ini yaitu Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa ada di halaman 188. Mengisahkan empat astronot yang terdampar di planet Merkurius dengan kondisi roket yang mereka tumpangi rusak total sehingga tidak bisa kembali ke bumi. Mereka berhadapan dengan keganasan alam, panas yang begitu menyengat karena jarak dengan matahari dekat,  badai abu hampir menenggelamkan tubuh mereka dan hujan meteor. Sementara air tidak ada.

Dari ketiga cerita di atas yang saya tuliskan, bisa ditebak, cerita dalam buku ini bukanlah absurditas  yang mengawang-ngawang, yang semata berdasarkan imajinasi penulisnya. Cerita –cerita dalam buku ini   terjadi disekitar kita tapi hanya  dialami sebagian kecil orang.  Cerita yang tidak pernah diangkat ke ruang publik sebagai fiksi karena dianggap tak menarik seperti bagaimana peperangan di dunia virtual menjadi candu bagi beberapa orang  dalam cerita berjudul Fatima (hal 41) dan Suatu Saat Kita Ingat Hari Ini (hal 154).

Dan penulis berhasil menuliskannya dengan cukup apik dalam hal deskripsi setting dan detail lainnya, seolah penulis pernah menjadi bagian dari cerita. Ini tentu tak lepas dari riset yang cukup intens dilakukan penulis, seperti yang diakuinya di bagian akhir buku ini. Point ini membuat pembaca seolah-seolah ‘melihat’ dan merasakan cerita itu.  Cerita dengan judul  Labirin yang Melingkar-lingkar dalam Sangkar (hal 110) berhasil membuat saya tercekam dan mengalami ketegangan seperti yang di alami Hattashi, Danno dan Riye dalam petualangan di sebuah terowongan tua. 

Cerita dalam buku ini memang  tidak ditulis berdasar kaidah fiksi standar atau teoritis, yang mengharuskan selalu ada konflik dalam cerita yang dibangun, ada yang menang ada yang kalah. Seperti halnya dalam  kehidupan nyata,  kadang  tak perlu kalah ataupun memenangkan sesuatu.  Atau mungkin sebaliknya, dalam kehidupan nyata bisa  terjadi hal yang aneh dan ajaib, seperti layaknya   sebuah fiksi fantasi yang tak perlu nalar logika.   Keanehan yang tidak bisa di jelaskan secara sains maupun spiritual.

Dan Seperti yang tertulis  di bagian akhir buku ini, mengenai proses kreatif bagaimana cerita-cerita  ini di buat, bahwa yang ingin penulis sampaikan dalam setiap cerita bukanlah untuk menginspirasi tapi mempertanyakan sekelumit pengalaman hidup yang kadang absurd, namun itulah yang membuat pengalaman hidup menjadi berharga.

Ada sedikit kesamaan dengan dua buku penulis sebelumnya yaitu Balada Cing-Cing (2010) dan Winter Dream (2011), Penulis tidak menggunakan metapora atau diksi luar biasa. Kata-kata yang dipilih, lugas dan efektif tapi kepiawaiannya mendeskripsikan setting dan detail membuatnya menarik dan pesan cerita tersampaikan secara tersirat. Dan ini yang membuat jarak antara antara cerita dan pembaca seolah tak ada sekat, cerita terasa natural dan nyata.

Kritik saya untuk buku ini adalah tulisan mengenai mengupas absurditas yang ditulis pada bagian akhir buku, di sini penulis menuliskan maksud absurd dari tiga cerita. Menurut saya tulisan ini tidak perlu disertakan, dengan begitu membaca lebih bebas menginterpretasikan setiap cerita.

Tapi secara keseluruhan, buku ini layak dibaca karena membuat kita merenung, tentang kehidupan yang absurd tapi nyata.

0 komentar:

Posting Komentar