Selasa, Februari 23, 2010

Resensi Wolf Totem



(New cover) (previous cover)


Judul buku : Wolf Totem
Penulis : Jiang Rong (Lu Jiamin)
Penerbit : Hikmah
Tahun : Desember 2009
Hal : 616 halaman
“Perang menuntut kesabaran,” sahut Bilgee lirih. ”Peluang menampakkan diri hanya pada mereka yang sabar, baik manusia maupun hewan, dan hanya mereka yang sanggup memanfaatkan peluang-peluang itu. Menurutmu bagaimana Jengis Khan sanggup mengalahkan pasukan-pasukan Jin (Cina) yang berukuran besar dengan jumlah tentara berkuda sesedikit itu? Dan semua bangsa yang jatuh ke tangannya?
Kesabaran itu pula yang dilakukan serigala Olonbulag. Untuk menikmati pesta pembantaian rusa, serigala harus menunggu hingga lima atau enam tahun, saat rusa bermigrasi dalam jumlah ribuan di awal musim dingin. Penyerangan dimulai setelah serigala mengintai dan menunggu hingga pagi hari. Karena walaupun sedang tidur, hidung dan telinga rusa tetap waspada hingga jika ada bahaya rusa akan melesat lari dan kecepatan berlari seekor rusa bukanlah tandingan serigala. Untuk itu seekor serigala akan menunggu hingga rusa tertidur dan bangun di pagi hari dengan kandung kemih penuh. Dan itulah saat tepat seekor serigala menerkam mangsanya karena rusa tidak bisa berlari sambil berkemih.
Pada saat yang sama, manusia mengintai pembantaian itu dan menunggu saat yang tepat untuk mengusir serigala dan menjarah rusa tangkapan serigala. Kulit rusa dihargai lebih tinggi dari upah mengembala dan daging rusa panggang segar adalah makanan terlezat di padang rumput. Akibatnya diawal musim semi serigala yang kelaparan akan turun gunung dan menjarah hewan ternak. Kisah diatas hanya sekelumit ‘pertempuran’ tanpa akhir antara serigala, nomad dan keganasan alam di padang rumput Mongolia Dalam.
Berawal pada musim dingin tahun 1967, Chen Zhen satu dari ribuan pelajar yang menuruti seruan Pemimpin Mao untuk ‘turun ke desa’.
Chen Zhen dikirim ke Olonbulag, Banner* Ujimchin di kawasan Mongolia Dalam bagian utara. Bagi Chen Zhen dan beberapa pelajar ‘turun gunung’ ini adalah kesempatan mendapat kehidupan yang tenang dan mereka tidak sepenuhnya ‘menuruti’ Pemimpin Mao. Chen Zhen melakukan perlawanan dengan cara membawa dua dus buku berisi buku-buku yang dilarang pemerintahan Mao karena dinilai kapitalis dan anti revolusioner. seperti buku-buku sejarah dan literatur Cina dan novel-novel sastra klasik karya penulis besar dunia seperti Balzac dan Tolstoy. Buku-buku itu akhirnya beredar dikalangan pelajar secara sembunyi-sembunyi dan menjadi barang yang mempunyai daya tawar cukup tinggi.
Sebagai masyarakat nomaden – hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan membangun perkemahan dan mendirikan tenda bundar berwarna putih yang disebut yurt – dan alam berupa padang rumput, mata pencaharian utama masyarakat Mongolia Dalam adalah berburu dan pengembala domba, beternak sapi dan kuda. Dan Chen Zhen bekerja sebagai penggembala domba, suatu perkerjaan yang nilai lebih santai di banding memelihara kuda atau berburu.
Wilayah Mongolia Dalam terkenal dengan keganasan alamnya, badan salju yang bisa berlangsung berhari-hari dan serangan nyamuk ganas di musim kemarau. Untuk bertahan hidup selain harus bersaing dengan alam juga dengan hewan sebagai penghuni padang rumput seperti serigala, rusa, tikus dan marmut. Bersaing untuk mendapatkan lahan untuk hewan ternak dan bersaing mendapatkan hewan buruan. Dan itulah hal yang menarik perhatian sekaligus membuat Chen Zhen kagum. Namun yang lebih mengejutkan sekaligus membuat Chen Zhen ‘mencari tahu’ ternyata bagi masyarakat Mongolia serigala bukankah sekedar hewan buruan tapi sekaligus Totem mereka. Padahal bagi masyarakat Cina, serigala adalah momok yang menakutkan. Serigala mengancam ternak dan pertanian mereka.
Satu persatu, berkat kedekatannya dengan Bilgee – seorang lelaki tua asli Mongolia yang dituakan dan berpengaruh, sebab mengapa serigala menjadi totem mereka terungkap. Setelah mengikuti setiap perburuan dan melihat dari dekat perilaku serigala, Chen Zhen mengamini pendapat Bilgee bahwa serigala adalah binatang yang cerdas. Dan mereka meyakini dari serigalalah leluhur mereka, Jengis Khan dan prajuritnya belajar hal ihwal strategi perang militer, keberanian, kekerasan, kemampuan mengorganisir dan mampu bertahan hidup ketika harus melintasi ribuan kilometer dengan menunggang kuda untuk sebuah penaklukan. Membentangkan kekuasaan sepanjang daratan Asia (Cina, Rusia, Persia, Asia tengah dan Asia tenggara) dan sebagian Eropa. Sebuah penaklukan yang dilakukan suku primitif buta hurup dari negeri yang kering dan sengsara.
Novel yang memenangi Man Asian Literacy Prize tahun 2007 ini diangkat dari kisah nyata penulisnya, seorang intelektual Cina bernama pena Jiang Rong. Dalam novelnya ia berperan sebagai Chen Zhen, seorang intelektual muda Cina yang menghabiskan lebih dari satu dekade hidupnya di wilayah Mongolia Dalam. Walaupun baru diterbitkan dalam versi bahasa Indonesia akhir tahun lalu sebenarnya novel ini terbit untuk pertama kali tahun 2004 dan telah terjual lebih dari empat juta kopi.
Deskripsi langskap-lanskap padang rumput, detail sebuah perburuan, interaksi antara manusia, binatang dan alam yang komplek jalin menjalin menjadi satu dengan bahasa yang mengalir dan hidup membuat buku setebal 616 halaman ini terasa lebih tipis. Tak bisa berhenti membaca. Saya pikir ini tidak lepas dari penerjemahnya, yang begitu apik dan tepat memilih setiap kata sehingga walaupun terjemahan ‘emosi’ penulisnya tetap terasa, tidak kaku dan tidak kehilangan ruh ‘sastra’nya.
Dengan setting novel yang terjadi pada periode 1966-1976, saat kondisi suhu politik Cina ‘panas’ tidak bisa tidak novel ini bersinggungan dengan isu politik yang terjadi tahun itu. Dan di sini terlihat Jiang Rong sangat hati-hati dalam mengkaitkan cerita dalam novel ini dengan situasi politik atau pemegang kekuasaan di Cina saat itu. Alasannya, mungkin karena yang menjadi inti cerita dan pesan yang ingin disampaikan Jiang Rong dalam novel memoar ini bukan apa dan bagaimana politik di Cina saat itu. Sebut saja ketiadaan penjelasan mengenai mengapa para pelajar termasuk dirinya yang dikirim Olonbulag diharuskan bekerja seperti layaknya masyarakat setempat. Atau perihal kampanye ‘empat lama’ yaitu menghapusan gagasan lama, adat-istiadat lama, kebiasaan lama dan praktik lama, yang hanya sedikit disinggung. Pun penjelasan mengenai produksi yang harus memenuhi quota yang ditetapkan, jumlah jam kerja, denda, dan keberadaan perwakilan militer yang mengatur dan menguasai masyarakat. Untuk pembaca yang tidak tahu situasi politik di Cina saat mungkin akan agak membingungkan, walaupun tidak mengurangi esensi novel ini secara keseluruhan namun terasa ada ruang yang kosong. Atau Rong menghindari ini untuk menghindari bukunya di cekal peredarannya oleh pemerintah?
Lepas dari itu, mengutip yang dikatakan Rong pada sebuah media massa di Cina. “I spent 30 years thinking, and six years writing ‘Wolf Totem’, and my only hope was to produce an appealing story.” Hasilnya bukan sekedar novel yang menarik namun rekaman jejak sebuah kebudayaan yang hilang. Eksodus warga Cina etnis Han, etnis mayoritas sekaligus etnis dari mana penulis berasal ke wilayah Mongolia dengan membawa ide modernitas, pembukaan lahan pertanian secara besar-besaran, mendirikan rumah-rumah permanen, dan perintah pemusnahan serigala secara masal menyebabkan kebudayaan-kebudayaan asli Mongolia tergerus. Alasan pelarangan hidup berpindah-pindah adalah untuk menghindari kekeringan di padang rumput akibat pertanian yang eksesif dan perpindahan peternakan. Dalam novel ini Rong mengupas dengan detail bagaimana masyarakat Mongolia mempertahankan padang rumput dan menjaga ekosistemnya adalah dengan cara hidup berpindah-pindah dan simbiosis mutualismenya dengan serigala.
Chen Zhen sudah jatuh hati pada serigala dan bertekad menyelamatkan serigala, dengan cara merawat seekor anak serigala. Suatu hal yang bertentangan dengan masyarakat Mongolia yang mendewakan serigala dan pemerintah yang memerintahkan pemusnahan. Namun Chen Zhen tetap dengan tekadnya, dengan alasan untuk mempelajari karakter serigala akhirnya perwakilan penguasaa militer, Bao Shungui mengijinkan dan mendukungnya. Mampukah Chen Zhen dan teman-temannya menyelamatkan kawanan serigala dan membentung pembukaan lahan pertanian di kawasan Mongolia Dalam?
Kehadiran buku ini bukan tanpa kritik. Seorang kritikus Jerman Wolfgang Kubin menilai buku ini fasis karena bisa menimbulkan kebencian dari salah satu pihak.
Don’t judge the book from the cover, tapi saya pikir soal cover buku terkait dengan selera dan setiap orang bisa berbeda menilai cover buku. Dan menurut saya cover buku ini kurang menarik, pertama kurang artistik walupun saya akan kebingungan jika ditanya definisi artistik. Kedua, terlalu biasa atau tidak membuat orang penasaran untuk membacanya. Lepas dari itu, saya suka novel ini karena kandungan historis nya dan memuat banyak hal soal keseimbangan alam. Ehm, kabarnya buku ini akan segera difilmkan, kita tunggu saja dan berharap sebagus novelnya.
Salam….

Beberapa istilah
Banner : Unit administrasi yang setara dengan county (semacam kabupaten)
Totem : Sebuah kepercayaan keagamaan. Totem biasanya adalah hewan atau figure alam yang secara spiritual mewakili sekelompok orang atau suku.
Sekilas tentang penulis:
Jiang Rong adalah nama pena dari Lu Jiamin. Akibat The Great Proletarian Cultural Revolution atau Revolusi Budaya yang dilakukan Mao (1966), ia dan ribuan pelajar Cina lain harus “kembali ke desa dan memetik ‘pelajaran’ dari pada petani”. Akibat revolusi ini ujian masuk perguruan tinggi dibatalkan selama satu dekade. Tahun 1978 Lu Jiamin kembali ke Beijing dan meneruskan pendidikan di Akademi Ilmu Sosial lalu bekerja sebagai akademisi (dosen) di Universitas Beijing dan pensiun pada tahun 2006.

Senin, Desember 14, 2009

Mengikat Makna


-->
Judul: Mengikat Makna Update
Penulis: Hernowo
Penerbit: Kaifa, Bandung
Cetakan: I, Oktober 2009
Tebal: xxxii+213 hal. (termasuk indeks)
-----------------------------------------------
Resensor : M Iqbal Dawami*
(*Staf pengajar STIS Magelang)
AKTIVITAS membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ibarat dua sisi mata uang. Kita dapat menulis suatu subjek akibat dari aktivitas membaca. Apa yang kita tulis adalah apa yang kita baca. Nah, dalam bahasa Hernowo, aktivitas baca-tulis ini disebut sebagai aktivitas “mengikat makna”. Akar dari hal ini diambil dari perkataan Ali bin Abi Thalib:"Ilmu itu seperti hewan buruan, maka ikatlah ia (dengan menuliskannya)." Dalam jagad kepenulisan, nama Hernowo sudah tidak asing lagi. Buku hasil racikannya sudah melimpah ruah. Dan dapat dipastikan, konsep "mengikat makna" bisa ditemukan di semua karyanya. Dan karya-karyanya pun adalah hasil dari pengamalan konsep “mengikat makna.” Bahkan beberapa judul bukunya menggunakan kata-kata ini. Buku-buku Hernowo disukai pembaca karena mempunyai bahasa yang sederhana, ringan, dan mudah ditangkap maksudnya. Hampir di semua bukunya ketika berbicara tentang membaca dan menulis, Hernowo selalu menekankan, bahwa menulis dan membaca bukanlah sebuah beban, apalagi hal membosankan, tapi aktivitas yang menyenangkan nan manfaat. Konsep “mengikat makna” ditemukan atas dasar pengalaman pribadi Hernowo saat bergumul dengan kegiatan membaca. Ketika selesai membaca, tiba-tiba saja banyak materi yang diperolehnya. Agar materi tersebut tidak lupa, maka ia harus dituliskan. Itulah yang dimaksud mengikat makna. Maka, secara tidak langsung kegiatan “mengikat makna” kemudian memberikan sebuah kesadaran akan pentingnya melanjutkan kegiatan menulis usai menjalankan kegiatan membaca. “Mengikat makna” menjadi sebuah proses penemuan diri bagi Hernowo, di mana dirinya tumbuh menjadi pribadi yang utuh dan unik. Dari seorang yang sering gagap dalam berbicara atau mengutarakan pendapat, menjadi seorang yang bisa menampilkan diri perlahan-lahan dan menemukan gaya-menulisnya. Apa yang kita baca bisa jadi tidak menghasilkan apa-apa jika kemudian tidak ditulis (atau “diikat”). Sebaliknya, menulis memerlukan membaca karena membaca akan memudahkan kita mengeluarkan pikiran dan perasaan dengan bantuan kata-kata yang telah tersimpan di dalam diri kita. Lebih dari itu, proses membaca dan menulis adalah upaya menghimpun hikmah yang berserak menjadi referensi dalam memperkaya hidup dan kehidupan. Secara gamblang jabaran konsep mengikat makna dapat dibaca dalam bukunya Mengikat Makna (2001). Lantas, apa perbedaan buku terdahulunya (Mengikat Makna,2001) dengan buku terbarunya Mengikat Makna Update (2009) ini yang sama-sama membahas konsep “mengikat makna”. Tak lain, buku ini merupakan pengembangan konsep “mengikat makna” dalam buku pertamanya. Dari pengertian “makna” tidak ada perbedaan dengan terdahulu. Hanya, pada yang pertama rujukan pengertiannya filosofis, sedang dalam buku ini tampak lebih praktis. Poin-poin mengikat makna sendiri ada empat pilar: Pertama, “mengikat makna” adalah kegiatan yang memadukan membaca dan menulis. Pilar pertama ini dianggap sebagai pilar yang paling pokok dan merupakan “nyawa” konsep “mengikat makna”. Kedua, “mengikat makna” adalah kegiatan yang sangat personal atau benar-benar diupayakan agar melibatkan diri pribadi yang paling dalam (inner-self). Ketika seseorang ingin menjalankan kegiatan “mengikat makna”, dia harus menganggap bahwa dirinya sedang berada sendirian di muka bumi. Ketiga, “mengikat makna” memerlukan kontinuitas dan konsistensi karena konsep ini adalah sebuah keterampilan sebagaimana memasak, menari, atau pun mengendarai mobil. Dengan melakukannya secara kontinu dan konsistenlah, seseorang akan merasakan manfaat luar biasa. Keempat, “mengikat makna” akan efektif jika menggunakan teknik membaca dan menulis yang berbasiskan cara kerja otak, yang oleh Hernowo sebut sebagai “brain based writing”. Teknik “brain based writing” sendiri sudah mencakup “reading”. Namun di antara pengembangan dari keempat pilar di atas, yang paling penting dan bahkan inti dari buku ini adalah ada pada pengembangan pilar kedua, yaitu bahwa kegiatan “mengikat makna” perlu dilakukan di “ruang privat”. Ruang privat yang dimaksud adalah sebuah tempat yang di dalam tempat itu hanya ada diri kita: sendirian. Secara hampir mutlak, yang mengendalikan ruang atau tempat ini adalah diri kita sendiri. Tidak ada yang dapat mencampuri ruang privat milik kita. Sesosok diri dapat melakukan apa saja di dalam ruang tersebut. Tidak ada orang lain, meskipun orang itu sangat kompeten dalam suatu bidang, yang boleh masuk ke ruang tersebut. Dengan menulis di ruang “privat” itulah kita dapat mengeluarkan segenap “diri kita” yang sesungguhnya, karena tak ada yang menilai tulisan kita seperti apa dan apa pula yang kita tulis. Dengan cara itu, pembelajaran menulis akan efektif dan kita akan merasakan plong yang luar biasa. “Ruang privat” inilah yang kerap digunakan Hernowo untuk “mengikat makna”. Efeknya luar biasa, dia menjadi keranjingan membaca dan kemudian menuliskan apa saja—untuk mendapatkan makna—karena “mengikat makna” benar-benar menyelamatkan dirinya dari kebosanan membaca dan menulis. Kita tahu bahwa membaca dan menulis adalah sebuah ketrampilan. Lewat “ruang privat” ini pula, Hernowo dapat menulis secara mencicil dan kontinu, sehingga dia dapat trampil dalam “mengikat makna”. Bagi kebanyakan orang, hal ini yang paling sulit. Harus diakui, untuk dapat menghasilkan tulisan yang baik perlu waktu. Bahkan, perlu memperkaya tulisannya dengan banyak membaca. Oleh sebab itu, menulis di “ruang privat” ini dapat membantu menampung “bahan-bahan” yang belum selesai. Buku ini cocok sekali bagi siapa saja yang ingin belajar menulis bahkan yang sudah lama sekalipun berkecimpung dalam dunia baca-tulis. Buku Hernowo yang berbasis “privat” ini nampaknya selaras dengan apa yang dikatakan Virginia Woolf, penulis Inggris, bahwa cara terbaik untuk membaca adalah dengan menulis. Membaca bukan bagian terpisah dari menulis. Keduanya pembentuk jalan ke masa depan. Keduanya merupakan bagian yang memungkinkan perkembangan individual, pemikiran kritis yang independen, dan pembangkit kepekaan terhadap kemanusiaan. []

Jumat, November 27, 2009

YANG TAK TERDUGA


Judul buku :
Bocah Muslim di Negeri James Bond
Penulis : Imran Ahmad
Penerbit : Mizan Tahun : September, 2009

YANG TAK TERDUGA
Oleh: Rina Susanti

Kalau selama ini sebuah memoar atau biography begitu menarik untuk dibaca dan dijadikan pelajaran hidup karena identik dengan kesuksesan penulisnya yang merupakan sosok orang terkenal atau seseorang yang memiliki kontribusi besar pada sebuah perubahan social, memoar Imran Ahmad ini mungkin sebaliknya. Kalau dicari dalam deretan daftar orang terkenal, sebelum buku ini diterbitkan, sangat mungkin nama Imran Ahmad tidak ada. Dia bukan seorang politikus, ekonom atau seorang negarawan. Seperti sebuah pepatah, kehidupan adalah pelajaran terbaik dan itulah yang dibagikan Imran Ahmad dalam memoar yang ditulisnya ‘Unimagined’, versi Indonesia judulnya menjadi Bocah Muslim di Negeri James Bond.

Mungkin pengambilan judul dalam bahasa Indonesia ini untuk lebih mengidentikan lingkungan tempat Imran Ahmad (sebagai bocah muslim) dibesarkan, Inggris sekaligus obsesi Imran, ingin seperti James Bond, seorang petualang ganteng, jagoan, dan dikelilingi perempuan cantik dan seksi berkulit putih seperti Teresa*. Walaupun begitu menurut saya pemilihan judul buku versi bahasa Indonesia ini kurang mewakili isi buku.

Terlahir sebagai seorang muslim dan dibesarkan dalam lingkungan non muslim dengan kepercayaan, kebudayaan, dan warna kulit berbeda. Perbedaan ini tak pelak membenturkan Imran pada kenyataan yang berbeda dengan persepsi dibenaknya termasuk keyakinannya terhadap islam. Beberapa teman Imran sempat berusaha merubah keyakinan agamanya dengan berbagai argumentasi. Mengapa aku menghabiskan begitu banyak waktu bersama Markus? Dia memperlakukanku dengan penuh kebencian, tapi aku teruws tertarik kepadanya. Karena aku takut mungkin dia benar dan aku terpengaruh dengan keyakinannya. Hal 316. Hal ini membuat Imran mempelajari Islam lebih dalam lagi dan ikut pertemuan kelompok muslim.

Bermula dari keputusan keluarganya untuk bermigrasi ke Inggris. Saat itu pemerintah Inggris mendorong dilakukan migrasi dari Negara-negara persemakmuran (Negara bekas jajahan Inggris) Inggris akibat kurangnya tenaga kerja pascaperang.

Sesampainya di sana mereka dihadapkan pada kenyataan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Kebanyakan warga Inggris tidak menyukai para imigran ini, karena menurut mereka para imigran ini hanya menghabiskan dana pemerintah. Kesulitan dimulai saat mereka mencari tempat tinggal. Beberapa penyewa kamar kamar memasang pengumuman’Tidak menerima orang Irlandia atau kulit berwarna’.

Dan ketika akhirnya keluarga Imran memiliki rumah sendiri, kesulitan perihal tempat tinggal belum selesai. Tetangga sebelahnya, Willy Jones seorang yang sangat rasis. Jones selalu berusaha memancing keributan dari menyetel musik keras-keras, melubangi dinding belakang rumah keluarga Imran dan mengalirkan pipa penampungan air hujan ke rumah Imran.

Benturan lain karena perbedaan pandangan yang telah dibentuk kultur keluarganya sebagai seorang muslim Pakistan dan kultur modern dunia barat, diantaranya soal pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Persoalan ini juga yang terus membuntutinya sampai Imran masuk perguruaan tinggi dan dewasa. Dengan jujur Imran menuturkan keinginannya seperti pemuda Inggris lainnya, yang bisa bercinta sebelum menikah. Imran tahu dalam kepercayaannya agama yang dianutnya, islam, hal itu adalah dosa. Dengan jujur ia menuturkan akal dan nafsunya mencari pembenaran perihal keinginannya itu (hal 288).Tapi keinginannya itu tidak (belum?) terwujud sampai saya selesai membaca buku ini.

Perilaku rasisme yang diterimanya dituliskan dengan tuturan objektif sehingga tidak ada rasa benci atau dendam. Namun begitu Imran selalu berusaha mengambil sikap positif terhadap setiap perilaku rasisme yang ia terima. Peldman adalah satu teman sekelasnya yang terang-terang membenci Imran. Suatu kali Peldman dengan sengaja dan tanpa sebab memukul kepala Imran dengan kerasnya. Seketika terbersit di benak Imran untuk membalasnya. Dengan memukulkan koper sekolahnya yang berlapis logam dan berisi banyak buku ke kepalanya….aku mengangkat koperku, untuk kuhantamkan di kepalanya.Aku dapat membayangkan rasa dan suara logam yang menghantam tulang.Tapi pada detik terakhir, aku mengurungkan niatku, karena memutusakan bahwa kehidupanku lebih penting daripada kematiannya. Diskriminasi yang diterima Imran tidak membuatnya berkecil hati dan putus asa. Malah sebaliknya, ini merubahnya dari siswa biasa menjadi siswa luar biasa. Membuatnya merasa harus sempurna sebagai seorang Inggris. termasuk obsesinya menikah dengan wanita berkulit putih Janice.

Di perguruan tinggi Imran jatuh cinta pada seorang perempuan bernama Janice. Dan terobsesi untuk menikahinya. Tapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Dan Imran harus menghadapi kenyataan yang sempat membuatnya malu di depan teman-temannya, soal pernikahan yang diatur (dijodohkan) keluarga, sebuah tradisi kebanyakan negara Asia. Dan Imran membiarkan prose situ dimulai dan dengan patuh pergi dengan orang tuanya menghadiri pertemuan-pertemuan perkenalan itu. Karena pernikahan dengan seorang non-muslim yang tidak berdarah Pakistan selalu menyebabkan pergolakan di dalam keluarganya. Dan Imran tidak siap menghadapi itu.

Memoar ini merekam perjalanan Imran Ahmad dari usai 2 sampai 37 tahun. Dengan dilengkapi catatan kaki di setiap halaman yang menuliskan usia dan tahun Imran mengalami kejadian yang ditulisnya, membuat pembaca memahami keterkaitan kejadian atau isu yang terjadi tahun itu. Misal, perang yang terjadi antara Pakistan dan India yang memperebutkan wilayah Kashmir, saat Imran berusia 8 tahun.

Buku setebal 466 halaman ini ditulis dengan gaya bertutur yang sederhana dan hangat. Rekaman pengalaman ditulis Imran dalam bentuk paragraph-paragraph pendek, malah beberapa hanya satu paragraph dan antara paragraph satu dengan paragraph lain bisa berbeda thema. Penulisan ini membuat pembaca tidak mudah jenuh dan bisa menunda membaca dihalaman manapun tanpa merasa tanggung. Bagi saya ini seperti mengumpulkan serakan puzzle tanpa harus menyusunnya. Perjalanan saat Imran berinteraksi dengan televisi, film dan acara favoritnya dan buku-buku yang dibacanya. Interaksi yang memunculkan keingintahuan khas seorang bocah dengan keluguan dan kepolosannya.

Dalam satu hal Imran tidak jujur, sampai buku ini habis saya baca, Imran tidak menyinggung sedikit pun soal siapa perempuan yang akhirnya ia pilih. Apakah Imran sudah menikah saat memoar ini selesai di tulis (37 tahun)? Atau masih belum menentukan pilihan.

Buku yang bagus sebagai pembelajaran bahwa lingkungan (buku, film dan lingkungan pergaulan) membentuk kepribadian dan sikap seorang anak dan pengalaman itu menjadi bekal kearifan untuk perjalanan hidupnya. Dan bagian yang tidak kalah penting adalah impian. If you can dream it, you can do it.