Kamis, Oktober 09, 2014

Mewujudkan Pernikahan Impian


Judul Buku          : Wedding Manual Book
Penulis                 : Nurul Fithrati
Penerbit              : Visimedia
Tahun                   : 2014
Hal                          : 252
ISBN                      : 979-065-221-6












Mewujudkan Pernikahan Impian

Setiap pasangan yang akan melangsungkan pesta pernikahan, tentu menginginkan sebuah pernikahan ideal yang diimpian selama ini. Pesta pernikahan yang berkesan tidak hanya untuk para tamu undangan tapi anda berdua. Karena moment ini sekali seumur hidup dan akan selalu dikenang.
Pernikahan merupakan impian setiap lajang dan menciptakan pesta pernikahan yang berkesan adalah harapan setiap calon pengantin (hal 74)

Pada saat bersamaan, kebanyakan pasangan bingung saat akan menghadapi pernikahan. Bingung dengan anggaran,  keinginan pasangan dan orangtua yang bersebrangan dan waktu  untuk mengurus semuanya. Problem   khas dan di alami hampir semua pasangan yang akan menikah.

Hal pertama dan utama yang perlu di diskusikan dengan pasangan saat akan melangsungkan pesta pernikahan adalah anggaran.  Sebaiknya bukan anggaran yang disesuaikan keinginan tapi sebaliknya. Ini sangat penting agar tak terpaksa pinjam sana-sini lalu  setelah pesta usai kebingungan karena bekal hidup satu bulan ke depan sudah habis.

Mewujudkan pesta pernikahan impian dengan anggaran terbatas sangat mungkin dilakukan, yang diperlukan kreatifitas.  Setelah menyesuaikan anggaran dengan pesta yang diinginkan, langkah berikutnya adalah menentukan konsep pernikahan.  Tradisional, modern, campuran keduanya atau fantasi. Menentukan konsep pernikahan harus cukup detail termasuk pemilihan lokasi, indoor atau outdoor dengan pilihan beragam; di gedung, rumah, pesta kebun, di kolam renang atau di pantai. Lalu pelajari persiapan, kekurangan dan kelebihan setiap konsep yang dipilih dengan begitu anggaran bisa di hitung secara kasar.

Menikah bukan hanya menyatukan dua hati dan dua individu berbeda, melainkan juga menyatukan dua keluarga besar dengan dua adat istiadat dan tradisi yang juga berbeda (hal 66). Pernikahan antara dua keluarga dengan adat istiadat dan tradisi berbeda umumnya memunculkan keinginan yang berbeda pula mengenai konsep pernikahan yang diinginkan.  Konsep pernikahan yang diinginkan tidak sesuai dengan selera orangtua atau mertua.  Cara terbaik adalah mencari jalan tengah,  sehingga tidak ada keluarga/orangtua yang merasa terluka.

Pilihan menggunakan jasa wedding organizer (WO) atau wedding package (WP) di kota-kota besar sudah menjadi hal umum, selain alasan kepraktisan juga efisiensi waktu dan anggaran. Banyak orang  beranggapan menggunakan jasa WO atau WP mahal, padahal dengan menjalin kerja sama dan komunikasi yang baik dengan WO atau WP yang kita pilih, sangat memungkinkan mewujudkan pesta pernikahan impian yang sesuai anggaran.

Apa bedanya wedding organizer (WO) dan wedding package (WP)? WO lebih menitikberatkan pada mengatur acara pernikahan, membantu calon pengantin menggelar pesta pernikahan sesuai konsep dan anggaran. Sedangkan WP menawarkan paket pernikahan lengkap dari A-Z, dengan vendor yang sudah terjamin kualitasnya.  

Dalam buku ini juga di paparkan dengan detail jika kita ingin mengurus dan menjadi WO untuk pernikahan sendiri. Berikut hal penting apa yang harus di lakukan dan bagaimana membentuk kepanitiannya dalam keluarga dan tugasnya.

Walaupun sudah mempersiapkan pesta pernikahan secara detail dan ‘sempurna’, tetap antisipasi jika terjadi kegiatan tak terduga. Ulasan kejadian dan cara mengatasinya di paparkan satu persatu di halaman 225. 

Sesuai judulnya,  buku Wedding Manual Book berisi petunjuk bagaimana agar sebuah pesta pernikahan impian terwujud dengan lancar dan ‘sempurna’, dengan ulasannya cukup lengkap dan detail . Dari persiapan pesta sampai ritual tradisi yang biasanya di lakukan calon pengantin.  Pemilihan  tempat pesta disertakan plus minusnya berikut persiapannya yang tentunya berbeda antara pilihan tempat satu dengan lain. Saran bagaimana membentuk kepanitian dalam keluarga, karena walaupun menggunakan jasa WO atau WP, keterlibatan pihak keluarga sangat dibutuhkan.

Dilengkapi dengan cerita mengenai  pengalaman dan kendala yang di hadapi pasangan yang akan melangsungkan pernikahan berikut cara mengatasinya. Referensi beberapa tempat bulan madu dengan harga terjangkau namun bagus di ulas di halaman 203.

Beberapa contoh foto dekorasi, pakaian pengantin, tempat pernikahan yang ada dalam buku ini bisa menjadi inspirasi pembaca. Di atas semua persiapan pesta pernikahan, yang tak kalah penting adalah menyiapkan diri untuk peran baru,  menjadi suami atau istri.



Jumat, Oktober 03, 2014

Apa Itu Homeschooling


Judul Buku         : Apa Itu Homeschooling
Penulis                : Sumardiono
Penerbit              : PandaMedia imprint GagasMedia
Tahun                 : 2014
Hal                     : 178
ISBN                  : 978-979-780-709-2











Apa Itu HomeSchooling

Saya mulai tertarik dengan ide homeschooling (HS) sejak secara tak sengaja ‘tersasar’ ke blog rumah inspirasi tahun 2010. Jadi waktu itu saya masih ngblog di multiply, karena teman di blog multiply ada yang homeschooling untuk anaknya, ‘nyasarlah’ saya ke blog mba Lala. Dan saya tertarik dengan ide homeschooling walaupun untuk menerapkannya masih terbentur ego J.

Ketertarikan yang membuat saya merasa harus siap jika tiba-tiba anak-anak mau homeschooling, misal si kecil sudah mengetahui minat dan bakatnya di usia sangat dini, sehingga dia tidak tertarik dengan pelajaran lain malah mogok sekolah. kata suami sih itu andai-andai yang berlebihan. Btw, saya merasa harus tahu dan siap aja sih.

Gagasan paling mendasar dari HS adalah tidak ada batasan apa saja yang harus dipelajari anak, batasannya hanya tidak melanggar aturan Tuhan dan tidak melanggar hukum. Dibangun berdasarkan nilai-nilai kebebasan bertanggung jawab pada orangtua atas arah pendidikan anak-anaknya (hal 3).

Bagaimana dengan kemampuan pengetahuan dan keterampilan orangtua yang terbatas? Di sinilah peran besar orangtua untuk mau belajar dan siap bekerja keras untuk anak-anaknya tapi jika tidak meumungkinkan pilihan mengleskan anak adalah jawabannya. Misal, jika orangtua kesulitan mengajarkan pelajaran bahasa Inggris, maka orangtua dapat mengeleskan anak pelajaran itu.

Namun jangan membayangkan HS sama dengan memindahkan belajar seperti di sekolah ke rumah, semua mata pelajaran di pelajari sesuai silabus dsb. HS lebih menekankan pada proses belajar yang sesuai bakat dan minat anak. Belajar dan apa yang dipelajari diselaraskan dengan kegiatan sehari-hari.

Misal, membiasakan anak untuk bertanggung jawab dengan dilatih melalui berbagai kegiatan di rumah seperti membersihkan rumah, menyiram tanaman dll. Sementara untuk hal yang bersifat akademis, proses belajar dimulai dengan rasa ingin tahu yang dikembangkan orangtua melalui proses mendidik dengan bertanya.

Homeschooling menerapkan model belajar modular yaitu proses belajar yang disusun berdasarkan mata pelajaran, bukan paket pelajaran. Anak belajar sesuai kecepatannya masing-masing untuk setiap mata pelajaran (hal 91).

Dalam sistem belajar modular,pada satu waktu tertentu anak bisa berada di jenjang yang berbeda misal kelas 6 untuk matematika, kelas 5 untuk bahasa Indonesia dan seterusnya.
Kunjungan ke tempat eduwisata bagi orangtua dan anak homeschooling menjadi agenda pembelajaran yang ‘wajib’, karena itulah salah satu media anak belajar.

Bagaimana jika anak homescooling ingin melanjutkan ke jenjang kuliah sehingga perlu ijasah? Siswa homeschooling harus melalui Ujian Kesetaraan atau Ujian Paket. Paket A setara SD, Paket B setara SMP dan Paket C setara SMA.

Sistem belajar homeschooling fleksibel bukan hanya dalam hal tempat belajar dan dana juga materi tambahan. Misal jika anak tertarik dengan pelajaran atau keterampilan tertentu (seni atau musik) bisa dileskan. Dan jika di sana ada bakat dan minatnya bisa difokuskan lebih cepat sehingga anak bisa menguasai bakat dan minatnya pada usia lebih dini.

Bagaimana anak-anak homeschooling bersosialisasi? Pertanyaan ini juga yang ada di benak saya jika si kecil homeschooling. Jawabannya ada dihalaman 43 buku ini; makna sosialisasi yang utama adalah penanaman nilai (value) dan membangun keterampilan sosial. Melalui keluarga, terbangun nilai-nilai apa yang seharusnya menjadi pegangan untuk interaksinya dengan teman dan masyarakat saat bertumbuh besar (hal 46).

Sedikit saya tambahkan mengenai sosialisasi, dari melihat blog teman-teman yang HS, umumnya mereka memiliki atau tergabung dengan komunitas HS, dan biasanya ada kegiatan bersama antara anak-anak HS, seperti pramuka. Jadi ini menjawab masalah sosialisasi anak-anak HS.

Evaluasi HS selain dilakukan melalui hasil ujian/tes  yang tak kalah penting adalah portofolio. Portifolio adalah dokumentasi yang menunjukkan catatan letertarikan dan gairah (passion) seseorang, yang terwujudkan dalam bentuk aksi dan output. Bisa dalam bentuk multimedia, foto, film atau penghargaan.

Buku yang ditulis praktisi HS ini bukan berisi panduan bagaimana homeschooling diterapkan pada lebih pada sebuah pengantar. Bagaimana awalnya gagasan homeschooling dan menerapkannya secara garis besar.

Sedikit tentang penulis buku ini; Sumardiono adalah praktisi Homeschooling. Sudah sebelas tahun menjalankan Homeschooling untuk ketiga anaknya. Tinggal di Jakarta Timur, kegiatannya homeschooling yang dilakukan penulis dan keluarganya bisa dilihat di www.rumahinspirasi.com









Minggu, September 28, 2014

Upacara Bakar Rambut

Judul Buku          : Upacara Bakar Rambut
Penulis                 : Dian Hartati
Penerbit              : Medium
Tahun                   : Desember, 2013
Hal                          : 95
ISBN                      : 978-602-8144-209










Upacara Bakar Rambut

Ini bukan review karena saya bukan orang sastra bingung sebenarnya cara meresensi buku puisi, katakanlah ini semacam pengalaman membaca buku puisi bagi saya sebagai orang awam.

Tahun 2002  puisi sempat ngehits (istilah jaman sekarang) di kalangan  pelajar , yaitu setelah filmnya Ada Apa Dengan Cinta, karena ada adegan  di film ini, tokoh utama, Cinta, yang diperankan Dian Sastro mengutip puisinya Chairil Anwar.

Setelah itu puisi kembali pada habitatnya, hanya di baca, di nikmati dan (bisa) di pahami sebagian kecil orang. Padahal membaca puisi atau membacakan puisi di beberapa negara sudah menjadi budaya seperti halnya membaca/membacakan buku fiksi.

Ini tak lepas dari kesan jika puisi itu berbahasa dewa, baik pilihan kata maupun metapornya. Susah dimengerti maksudnya. Padahal tidak semua puisi seperti itu.

Seperti puisi Dian Hartati dalam buku kumpulan puisinya yang berjudul Upacara Bakar Rambut.

hari sudah berubah / kelam dan kelabu / tak ada warna lain selain air mata /
sekali waktu aku menyapu halaman / mengingat wajahmu / di lain hari aku mengelap perabot / hanya matamu yang berkejaran
hampir dua tahun, jo / kisahan begitu singkat / kenangan akan terus / memanjang /berjumpalitan dalam pikiran
belum genap dua belas bulan, jo / asmara tak pernah lengkap / semuanya harus di tinggalkan.
Puisi di atas dikutip dari puisi berjudul Rumah Penuh Kenangan, Jo (hal 33).

Puisi-puisi dalam buku ini terasa intens karena seperti di tulis dalam kata pengantarnya puisi yang tertulis di sini adalah kisah si penulis sendiri mengenai kelahiran, pernikahan dan kepergian.
Membaca puisi – puisi dala buku ini  seperti membaca sebuah cerita, seperti dalam puisi berjudul Prosesi Pernikahan (hal 27)
...
Pukul sembilan tepat / penghulu undur diri / semua sepakat / kami telah diikat /
Wahai ayah / tak ada lagi kau / di samping tubuhku / aku mengayuh sendiri / aku harus sendiri

Wahai bunda, / tak ada lagi kau / ketika bangun nanti / aku yang menyiapkan segala / air mengepul / dapur harus berasap
pukul

Pilihan kata puisi-puisi dalam buku ini, kata yang kerap digunakan dalam percakapan keseharian, baku tapi tidak kaku.

Puisi yang menarik lain untuk saya adalah puisi berjudul Rasa Bumbu Kuning (hal 66), beragam bumbu yang digunakan untuk memasak ikan di buat metafor yang mendeskripsikan keadaan dan  suasana hati, berikut saya kutip dua macam rempah;
...
-kemiri-
Bagai santan yang jernih airnya
Keu melupakan gurih peristiwa
Helai demi helai rambut’abunya di tiup ke laut
Di tengah sana,
Dua tahun lalu,
 Perkawinan berlangsung megah
Ikan-ikan menari di kuali
Bersenandung gempita
-merica-
Anak-anak tumbuh besar
Kata-kata mereka sudah pedas
Melakukan hal sesuka
Pulang tak kenal waktu
Berangkat lupa sarapan
 Anak-anak penuhi janji
Menjaga sikap dan bicara
Langkah mereka sedikit sesat
Tak mengapa
Asal kembali ke pangkuan
Tak melupa makanan di meja
....


Karya-karya puisi Dian Hartati selain banyak berupa antologi puisi, juga sering menghiasai halaman koran yang menyediakan rubrik puisi seperti Kompas, Sindo, Pikiran Rakyat, Tempo dan banyak koran lain. Tak heran kepiawaiannya memilih dan menyusun kata dalam puisi terasa bernas dan intens terasa dalam buku puisi ini. Tentang penulis bisa juga dilihat di sini 

Saya kira puisi-puisi semacam inilah yang bisa membumi, mudah dipahami dan terasa sentuhan personalnya. 

Sayangnya masyarakat Indonesia tak dikenalkan budaya membaca puisi, saat sekolah hanya diminta menghapal siapa pujangga puisi angkatan sekian-sekian dan judul puisinya tanpa 'membaca'nya.