Kamis, April 17, 2014

The Davincka Code

kurang focus ke gambar cover buku nich
Judul Buku          : The Davincka Code
Penulis                 : Jihan Davincka
Penerbit              : Edelweiss
Tahun                 : Desember 2013
Hal                     : 296
ISBN                   : 978-602-867-26-27

Catatan Gado-gado Seorang Mama

Tahun 2012  lalu, sebuah pesan masuk ke fb, isinya meminta kesedian saya meresensi sebuah buku berjudul Bunda of Arabia. Siapa nich, gak kenal? Guman saya dalam hati. Tapi permintaan itu membuat saya tersanjung, blog campur aduk yang kemudian saya jadikan khusus buku ini diniatkan dengan semangat besar tapi karena sok sibuk, mati enggan hidup tak mau alias jarang up date. 

Tanpa pikir dua kali saya iyakan tawaran pengirim pesan yang tak lain adalah jeng Jihan (dulu belum temenan). Resensinya selain di publish di blog ini, saya publish juga di situs reader digest Indonesia. Itulah kali pertama saya kenal Jihan yang kemudian dikenal dengan status – status fb nya yang panjang dan menuai ratusan komentar dari yang memuji sampai menghujat dan mengancam.

Isi buku  The Davincka Code seperti yang saya tulis sebagai judul resensi ini, gado-gado. Semoga, penulis gak keberatan ya dengan tema resensi yang saya tulis karena setelah membacanya, isinya menurut saya campur aduk seperti gado-gado. Dari mengenai jadi ibu, anak, blogger, istri, teman dan warga negara yang baik namun kesemuanya ditautkan dengan  sebuah benang merah yaitu bahwa  inspirasi terbesar  itu datang dari orang-orang terdekat dan kita cintai. Terlebih jika waktu dan jarak telah memisahan kita dari orang-orang yang kita cintai....many times, home are the people, along with the memories I’ve created with them (hal 53). Kesamaan lain buku ini dengan gado-gado, enak dinikmati dan bergizi.

Penulis yang juga seorang blogger,istri dan mama dua anak ini, sempat tinggal di beberapa kota di luar negeri (kini bermukim di Athlone Irlandia). Dan buku ini berisi sekelumit ‘perjalanan’ yang di lalui penulis. Tempat baru, suasana baru, bertemu orang baru,penyesuain, harapan dan cita-cita, meninggalkan cerita dan kenangan yang menginspirasi.

Di buka dengan tulisan Every Mom Has Her Own Battle. Tema yang menurut saya pas dengan kondisi saat ini, di mana ada  sebagian para mom memanfaatkan jejaring sosial untuk nyinyir atau mengemukakan pendapat ‘benarnya’ soal pilihan ‘keibuannya’. Jadi stay at home mom (SAHM) vs working mom (WM),  asi vs sufor, cesar vs normal, vaksin vs gak vaksin, popok sekali pakai vs yang bisa dicuci. Saya pun pernah baca status-status semacam itu dan bikin senewen.

Padahal setiap mama punya parenting style yang beda dan gak bisa ‘maksa’ di samakan. Selain tentu setiap mama punya alasan khusus dengan pilihannya. Apa alasannya? Tentu hanya mom bersangkutan yang tahu. Mana yang lebih baik dan mulia SAHM atau WM? Hanya Tuhan yang tahu. Seperti kata penulis ‘surga di bawah telapak kaki ibu. Bukan di bawah telapak kaki ibu rumah tangga, ibu pekerja kantoran, atau ibu pengusaha bahkan ibu pelajar. Tapi di bawah kaki (semua) ibu’. So, win yours without being ‘nyinyir’ to others. (hal 15).

Menjadi ibu memang tak mudah tapi bisa dipelajari. Butuh kekuatan fisik juga kesabaran, tak jarang atau bahkan mungkin sering ditingkahi keluh kesah karena manja dan merepotkannya si kecil, tapi ingatlah suatu saat masa itu akan tinggal sepenggal kenangan yang ingin kita ulang...ya, until it’s gone (146)

Dear son, fly abandonedly into the sun adalah tulisan yang menyentuh walaupun ditulis dengan gaya bahasa khas penulis yang blak-blakan dan spontan (hal 245). Bahwa sebesar apapun cinta seorang mama pada anak-anaknya, suatu saat ia harus merelakan mereka pergi.... fly abandonedly into the sun.

Buku ini merupakan bulu solo kedua penulis. Buku yang diterbitkan tanpa drama alias langsung di tawari penerbit. Namun bisa dibilang inilah hasil ‘perjuangan’ Jihan  impiannya menjadi penulis. Setelah sebelumnya jatuh bangun menerbitkan secara indie buku yang ditulisnya bersama para mama perantau di Jeddah dan tertuang dalam tulisannya yang berjudul for making us a fighter (hal 73). Membaca tulisan ini sekaligus menjawab kesalutan saya, bagaimana penulis cukup kuat di bully di sosmed karena status panjangnya yang tak jarang menuai pro kontra. Karena seperti yang tertulis di sana...kitalah pemegang kendali atas respon mana yang kita pilih (hal 77).

Keluarga sepertinya menjadi inspirasi terbesar penulis, itu terlihat dari porsi tulisan yang didominasi cerita latar belakang keluarga penulis cukup besar. Namun ada pula inspirasi yang penulis dapatkan dari film seperti dalam tulisan Happiness is not given, it’s made. Sedangkan  we do and we don’t terinspirasi dari kisah pewayangan. Ada juga tulisan yang terinspirasi dari tokoh nasional, Soekarno dan Hatta.  

Buku ini terdiri dari 38 tulisan yang sebelumnya pernah di publikasikan penulisnya di blog pribadinya, ada juga tulisan yang berasal dari note/status penulis di fb. Dengan tema beragam dan menginspirasi.

Kekurangan buku ini menurut saya, ada pada teknik penyusunan. Akan lebih ‘rapih’ jika tulisan di susun per bab berdasarkan tema. Pembacanya pun akan lebih mudah ketika ingin membaca secara acak.

Oh ya salah satu tulisan di buku ini menjawab rasa penasaran dan keingintahuan saya *kepo*, alasan penulis memberi judul dengan menyertakan namanya plus ada foto diri penulis di cover depan ;)

Secara keseluruhan buku ini cukup menginspirasi dan menularkan energi positif. Seperti yang tertulis di salah satu halamannya bahwa penulis ingin menebarkan inspirasi positif tanpa membuahkan energi positif. 

Jumat, Maret 21, 2014

Little Stories

Resensi ini sebelumnya tayang di sini 




Judul Buku          : Little Stories (sebuah antologi)
Penulis                 : Rinrin Indrianie, Vera Mensana, Adeste Adipriyanti, Faye Yolody dan Rieke 
                               Saraswati
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Tahun                   : Februari  2014
Hal                          : 255
ISBN                      : 978-602-03-0190-7
Harga                    : rp.55.000,-

Cerita Kecil
resensor rina susanti

Salah satu dari lima penulis ini, Rinrin Indrianie atau biasa di sapa dengan nama Orin, bukan nama yang asing untuk para blogger penyuka atau penulis Flash Fiction (FF).  Dari beberapa Flash Fiction-ers yang saya baca, FF Orin sudah memiliki kekhasan tertentu, pandai membuat kejutan dan menendang dengan thema yang menggigit plus diksinya apik.  Bisa dibilang itu salah satu alasan saya memburu buku ini begitu terbit selain sosok yang ada dibelakang layar buku ini yaitu Maggie Tiojakin, penulis yang karyanya menurut saya sudah sejajar dengan penulis-penulis senior tanah air. Tapi kalau soal ini kembali pada soal selera ya.  Saya menyukainya karena fiksinya bukan sekedar fiksi hiburan.

Kembali ke soal bukunya neng Orin. Berikut review saya

Tidak seperti kumpulan cerpen pada umumnya yang ditulis oleh lebih dari dua penulis, cerita satu sama lain biasanya diikat dalam satu tema. Kumpulan cerpen berjudul  Little Stories ini terdiri dari 20 cerita dengan beragam tema dan walaupun tema cinta mendominasi,  cerita  cinta yang diangkat tidak hanya hubungan antara lelaki dan perempuan dewasa.

Salah satu kisah cinta yang menyentuh ada dalam cerita yang berjudul Berdua Saja. Kisah kasih dan sayang antara seorang anak dan ayahnya. Di mana seorang anak menolak secara halus keinginan ayahnya untuk menikah lagi.
“Aku lebih suka berdua saja,” kata Niko pelan.
Ahok tertegun. Mata sipitnya menelusuri wajah mungil yang menengah di depannya. Di gesernya naik gagang kacamata wajah Niko sembari menghela nafas (hal 223).
Ikatan cinta seorang anak dan bapaknya bisa juga di temui dalam cerpen  Semangkuk Baso Tahu mengenai, kisah  seorang anak yang ingin membahagiakan bapaknya dengan semangkuk baso tahu. Cerpen yang ditulis Orin.
“Nanti Ujang lihat dulu ya, Pak. Kalau jualan, Ujang beliin Bapak Bakso tahu.” Bapak tertawa hingga batuk berikutnya menghentikan kekehan itu.
“Nuhun nya, Jang. Mudah-mudahan weh si Mang Iyan jualan hari ini mah.”
“Iya, Pak.” Aku berdoa tulus, tetapi untuk alasan lain. Karena sebetulnya Mang Iyan tak penah tidak jualan. Karena sebetulnya bermangkuk-mangkuk bakso tahu selalu tersedia di warungnya. Karena sebetulnya aku yang memilih berbohong pada Bapak... (hal 65)

Cerita berjudul Brongkos Mertua adalah kisah yang mungkin banyak dialami pasangan muda perkotaan, cinta yang dibumbui  dengan ‘perseteruan’ antara menantu dan mertua. Gelar tidak bisa dipisahkan dari bronkos maka kunjungan  setiap dua minggu ke rumah Ibunya untuk menyantap bronkos adalah agenda wajib. Pada setiap kunjungan itu pula Ibu akan menyindir istri Gelar.

‘Wanita zaman sekarang lebih senang buang duit suami di mal ketimbang meracik bumbu di rumah. Mana mau tangannya tergores pisau, kebledosan minyak, matanya pedas ngupas bawang merah, atau kecocol cabe. Nggak gampang lhop cari calon menantu yang mumpuni di dapur.’ (hal 45).

Dengan alasan itu dan atas saran Gelar, akhirnya istrinya belajar membuat brongkos pada mertua dan itu bukan hal mudah terlebih ia tidak terbiasa di dapur. Dapur jadi semacam medan perang (hal  50 )Bisa dikatakan  bukan ide cerita yang baru. Namun penulis berhasil membuatnya  terasa beda  karena penulisan tempat adegan cerita berlangsung  cukup  detail  dan alur yang runut.

Cerita yang tak kalah menarik adalah cerita berjudul Gohu Buat Ina, ide ceritanya unik dan cerita tuntas dalam adegan percakapan yang mungkin kurang dari satu jam bertempat di  dapur saat Ina dan Andine membuat Gohu.  Tentang bagaimana Gohu – semacam rujak pepaya mengkal dengan bumbu bakasang (terasi khas menado) – membuat Ina bersuka cita memakannya karena ia tengah hamil muda, namun terasa pahit bagi Andine karena saat itu Gohu mengingatkan pada masa lalunya  yang buram dan terasa keji.

Gohu Buat Ina adalah cerita yang paling saya suka, ‘sense’ nya kerasa banget, natural plus gaya penceritaannya yang unik alias jarang.

Kumpulan cerita ini ditulis lima penulis perempuan yang mungkin namanya masih asing untuk para penggemar fiksi,  namun kebolehan mereka menulis bisa dilihat dari gaya penceritaan yang berbeda dari cerita-cerita metropop pada umumnya. Detail tempat yang dituliskan dengan baik, sudut pandang penceritaan baru dan ada beberapa cerpen dengan ide yang tidak biasa dalam ranah cerita pendek metropop tanah air. Seperti dalam cerita yang berjudul Nama Untuk Raka (hal 200) dan Pasien (228), namun masuk akal jika  terjadi dalam kehidupan nyata.

Kalau biasanya fiksi yang dilabeli genre metropop mengisahkan cerita  dengan latar belakang kelas menengah perkotaan maka dalam kumpulan cerpen ini merangkum banyak sisi kehidupan kota besar.  Kisah perantauan yang hidup dalam rumah- rumah kontrakan berukuran 3x3, penggusuran lahan, demonstrasi, stres, depresi yang seperti menjadi wabah baru di kalangan  menengah masyarakat perkotaan, dan cerita dengan tokoh utama peranakan Tionghoa yang tetap lekat dengan budaya dan tradisi di tengah gempuran moderisasi, seperti dalam cerpen Bakcang Terakhir (hal 32), yang bercerita mengenai reinkarnasi.

Kelima penulis berbakat ini ‘ditemukan’  Maggie Tiojakin, seorang penulis yang karyanya diperhitungkan di dunia kepenulisan fiksi tanah air.  Maggie  membekali dengan kursus menulis kreatif sebelum kelima penulis ini berembuk untuk membukukan tulisan-tulisan mereka.

Tak heran jika penyusunan buku yang terdiri dari empat bab ini didasarkan pada katagori latihan menulis. Bab 1 bertema kuliner, bab 2 bertema demonstrasi, bab 3 cerita dengan basis prompter yaitu dengan kalimat pembuka cerita yang sudah di tentukan dan bab terakhir cerita dengan tema bebas. Setiap penulis menulis satu cerita pada setiap bab. Buku ini cocok juga dibaca orang yang tertarik belajar menulis fiksi khususnya cerita pendek seperti bagaimana menemukan ide, bagaimana sebuah ide bisa menjadi banyak cerita dan tema.

Catatan: Sebenarnya ada beberapa masukan dan sedikit kritik untuk -cerpen Orin, tapi di PM aja ya xixixi



Jumat, Maret 14, 2014

Rahasia Ayah Edy Memetakan Potensi Unggul Anak



Judul Buku          : Rahasia Ayah Edy Memetakan Potensi Unggul Anak
Penulis                : Ayah Edy
Penerbit              : Noura Books
Tahun                 : Februari  2014
Hal                     : 175
ISBN                 : 978-602-1606-38-4
Harga                  : rp.42.000,-

Memetakan  Potensi Unggul Anak Sejak Dini
resensor rina susanti

*resensi ini dimuat di koran jakarta beberapa hari lalu dan di edit cukup banyak sehingga menurut saya kurang komprehensif. Berikut versi asli sebelum di bedah editor korjak. Versi korjak bisa dilihat di sini 
Setiap anak lahir dengan membawa bibit unggul masing-masing. Anak yang memiliki bibit dokter jika dirawat dengan tepat, kelak ia akan tumbuh menjadi ‘pohon dokter’, begitu pun anak dengan bibit pelukis akan tumbuh menjadi ‘pohon pelukis’ jika diasah dan dikembangkan dengan baik. Sayangnya, bibit apa yang dimiliki seorang anak tidak terstempel di dahinya, orangtua dituntut jeli membaca petunjuk – petunjuk di bawa anak sejak lahir.  Anak yang membawa bibit pelukis, biasanya sejak kecil sudah terlihat senang menggambar dan memberikan hasil gambar yang kualitasnya baik ketika diajari.
Namun adakalanya orangtua ‘memaksakan’ minat dan bakat anak dengan tujuan agar kelak si anak sukses. Sukses yang umumnya dikaitkan dengan pekerjaan yang  bisa memberikan penghasilan besar.  Tak heran jika saat memasuki jenjang kuliah, banyak orangtua menuntut anak masuk jurusan-jurusan favorit tak peduli anak tidak berminat atau tidak berbakat terhadap bidang itu.
Akhirnya bibit pelukis tumbuh menjadi ‘pohon dokter’, bibit sutradara menjadi ‘pohon insinyur’.  Mereka tumbuh menjadi dokter atau insinyur tanggung karena bekerja dengan setengah hati, tidak bahagia  dan bekerja hanya demi uang.  Mereka tidak memiliki impian dan idealis sehingga peluang untuk melakukan korupsi  besar.
Padahal jika kelak seorang anak bekerja dan mencintai pekerjaannya – walaupun bukan pekerjaan yang katanya berpenghasilan besar – ia akan bekerja dengan sepenuh hati dan bukannya cuma sibuk memburu uang, justru uanglah yang akan mengejarnya (hal 13).

Di sinilah diperlukan kebesaran hati orangtua  jika ternyata potensi ungul anak tidak sesuai yang diinginkan, atau bukan potensi yang populer di kalangan masyarakat umum, misal anak berminat dan berbakat menjadi seorang dalang.

Mengetahui potensi unggul anak sejak dini, akan memudahkan orangtua mengasah dan mengembangkannya sejak dini pula sehingga saat memasuki usia remaja anak sudah memiliki impian dan tujuan masa depan. Anak yang sudah memiliki impian dan tujuan masa depan tidak akan mudah terpengaruh oleh lingkungan buruk seperti tawuran, narkoba dan pergaulan bebas.

Selain itu, mengetahui potensi unggul anak sejak dini  sama dengan menyiapkan anak-anak kita menjadi sumber daya manusia (SDM) yang siap menghadapi pasar bebas dan menjadi tuan di negara sendiri.
Seperti kita kita ketahui, era pasar bebas sudah dimulai sejak tahun 2010, tahun 2015 negara kita akan bersaing di Masyarakat Ekonomi ASEAN.  Tak lama lagi para pencari kerja akan bersaing dengan para pencari kerja dari berbagai negara ASEAN. Dan saat itu  yang dibutuhkan adalah SDM yang berkualitas dan spesialisasi (hal 17).

Bagaimana dengan anak yang diberi label tertentu oleh sekolah atau psikolog, seperti anak hiperaktif, autis, slow learner, disleksia. Label yang umumnya membuat para orangtua pesimis dan bingung dengan masa depan anaknya kelak. Banyak fakta sejarah bagaimana anak-anak yang dianggap ‘bodoh’ ternyata jenius sebuat saja Albert Einsten atau Thomas Alpha Edison, di keluarkan dari sekolahnya karena dianggap bodoh. Dari dalam negeri ada Marta Tilaar, beliau dulu dianggap anak slow learner, namun kini menjadi pengusaha sukses dan dikenal sebagai tokoh kecantikan yang sudah mendunia, kisahnya ada di halaman 104. Artinya, orangtua berperan penting menentukan kesuksesan seorang anak kelak bukan hanya sekolah.  Homeschooling bisa menjadi pilihan.  

Memetakan Potensi Unggul Anak
Bagaimana kita sebagai orangtua mengetahui potensi unggul anak? Dalam bukunya ini disebutkan lima langkah yang harus dilakukan orangtua untuk mengetahui potensi unggul anak.

Tapi sebelum kelima langkah itu dilakukan orangtua harus di pahami dulu apa itu minat dan bakat. Minat dan bakat/potensi biasanya berimpitan namun dua hal yang berbeda. Minat adalah aktivitas yang kita sukai dan merasa senang mengerjakannya tapi belum tentu aktivitas itu merupakan bakatnya. Sedangkan bakat berhubungan dengan hasil. Anak dengan bakat melukis misalnya, ketika di ajari melukis akan memberikan hasil signifikan.

Adapun lima langkah itu adalah; melakukan stimulasi, menentukan minat dan bakat anak, menguji coba minat dan bakat, penajaman profesi atau memberikan pengetahuan mengenai profesi yang kelak diinginkan anak sesuai minat dan bakatnya terakhir membuat rencana masa depan atau membuat rencana dan langkah-langkah yang harus di tempuh untuk anak mencapai kesuksesan dengan potensi unggul yang dimilikinya.

Hal lain yang ditekankan dalam buku ini adalah bahwa uang bukan segalanya, artinya keterbatasan uang bukan halangan untuk mengasah dan mengembangkan potensi unggul anak.

Buku ini ditulis Ayah Edy berdasarkan pengalamannya sebagai praktisi dan konsultan Parenting, jadi selain teori buku ini juga berisi contoh memetakan potensi unggul anak  dari klien Ayah Edy.  Ada juga kisah inspiratif dari orang-orang berbakat nomor satu di dunia dan bagaimana mereka ditemukan potensinya sejak dini oleh orangtua mereka, seperti pembalap dunia Michael  Schumacher   atau  Agnes Monica penyanyi yang mencapai kesuksesannya di usia belia.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk para orangtua dan calon orangtua.

Review buku Ayah Edy yang lain di sini 

versi korjak