Kamis, Desember 15, 2011

A Cup Of Tea For Complicated Relationship



Judul buku      : A cup of Tea for Complicated Relationship
Penulis             : Lygia Pecanduhujan dan Herlina P. Dewi  (sebuah antologi)
Penerbit           : Stiletto Book
Tahun              : Agustus 2011 (cetakan 1)
Hal                  : 208  halaman

Dicinta dan mencintai kerap kali tidak berujung mulus pun ketika cinta itu telah di ikat dalam sebuah komitmen yang sakral yaitu pernikahan. Tidak juga berlaku hukum lamanya saling mengenal (pacaran) menjadi jaminan langgengnya sebuah ikatan pernikahan. Ada yang tanpa diawali proses pacaran sebuah ikatan pernikahan  langgeng. Mungkin itu cara Tuhan membuat kita lebih bijak dan arif memaknai hidup untuk kemudian mensyukuri.


Perbedaan keyakinan (agama) biasanya menjadi hal yang membuat sebuah hubungan rumit. Andaipun yang menjalan hubungan tidak merasa rumit dengan keyakinan bahwa 'mengimani Tuhan yang Satu, Tuhan pencipta Semesta. Meski cara kami bertemu Tuhan memang berbeda, tetapi kami tidak pernah memandang perbedaan itu sebagai sebuah masalah' (hal 28), tapi bagi pihak keluarga dan teman, tetap memandangnya sebagai hubungan yang rumit. Seperti  kisah yang dituturkan Ririe Rengganis.

Ya, bagi sebagian orang bicara mengenai   perbedaan agama yang kemudian disatukan dalam ikatan pernikahan tidaklah sesederhana ungkapan Satu Tuha, beda jalan. prinsip ini yang di yakini penulis dalam ksiahnya yang berjudul, Selalu tersenyum meski tanpamu, yang menjadi kisah pembuka dalam seri kedua dari buku A cup of Tea (ACOT) for Complicated Relationship. Sebuah buku yang berisi 20 kisah menghangatkan hati mengenai kompleknya sebuah hubungan cinta.

Ikatan pernikahan yang sakral pun tidak serta merta membuat hubungan manis. seperti kisah yang dialami Yani dalam tulisan yang berjudul Saat Harus Memilih. Tahun-tahun awal pernikahan yang biasanya begitu manis terlebih setelah kehadiran si buah hati malah menjadi saat yang menyakitkan. Menyadari kenyataan sosok lelaki yang dinikahi tak punya karakter, pendirian  dan tidak bertanggung jawab. Sikap – sikap yang semestinya dimiliki seorang lelaki sejati sebagai suami dan ayah. Atau perihnya luka yang dialami Puput Happy yang dipoligami dengan iming-iming masuk surga  dan diminta tinggal serumah dengan istri kedua suaminya. Isu yang sangat sensitif untuk perempuan.

Kedua cerita itu memang paling menyentuh untuk saya mungkin karena sudah  menikah dan mengalami rasanya ‘sudah total’ sebagai istri dan mama bagi anak-anak. Totalitas yang  menyakitkan jika sampai dikhianati.

Ada 16 kisah lain yang tak kalah menarik dan bisa dijadikan pembelajaran, terutama untuk para perempuan. cinta memang memabukkan tapi jangan sampai membutakan hati sehingga tega mengkhianati perempuan lain dengan rela menjadi istri kedua.   

Btw, buku yang membuat rasa stukur saya bertambah karena memiliki suami sepertimu - this review dedicated for my husband:)

Oh ya sedikit kritik, cetakan buku kurang rapih, ketebalan tinta kurang merata. but don't judge the book by the cover. 

Kicauan Seorang Entertainer


Judul buku      : Kicau Kacau
Penulis             : Indra Herlambang
Penerbit           : Gramedia
Tahun              : Februari  2011 (cetakan 1)
Hal                  : xv + 332  halaman

Kicauan Seorang Entertainer

Terus terang dan sejujurnya, saya enggan membeli dan membaca buku yang ditulis selebritis jika tidak atas rekomendasi seseorang karena dinilai bagus. Dan buku ini termasuk yang direkomendasikan beberapa teman.

Sesuai judulnya buku ini memang berisi kicauan seorang Indra Herlambang, entertainer yang dikenal sebagai hostnya acara gosip di sebuah stasiun tv. Kicauan mengenai hal-hal kecil dan biasa yang  terjadi di sekelilingnya.  Ditulis dengan gaya yang nyeleneh, sudut pandang  yang berbeda dan kadang nyeleneh sehingga . Entah itu tweeter.

Bab pertama berisi kiacauan Indra soal gaya hidup dan  hidup gaya. Jejaring sosial sebagai bagian dari gaya hidup atau hidup gaya tidak lepas dari kicauannya seperti dalam tulisan  yang berjudul sama dengan judul bukunya Kicau Kacau (hal 5). Apa yang dialami Indra yang keranjingan ngetwit mungkin juga pernah dirasakan banyak orang, menjadi twitter addict (atau fb addict) yang selalu meng up date status. Apa jadinya  ketika kicauan atau status seseorang dibalas dengan kalimat  kurang  sedap termasuk mengangkat  isu politik, kritik pedas dan lelucon berbau politik? Tentu menyelam di dunia ini tidak lagi fun. Seperti yang sempat saya alami, gerah dengan status teman yang alay atau melulu mengomentari isu politik (apa gak capek ya?), dengan senang hati saya  mendelete teman-teman. Bagi saya jejaring social untuk kesenangan dan memanfaatkannya.
Tulisan di hal 38 mengenai gerakan 1000 langkah. Di dorong  rasa penasarannya Indra menghitung langkahnya sendiri selama seharian beraktifitas dan hasilnya tidak mencapai 1000 langkah. Itu  artinya? Awalnya tulisan ini terkesan mengkritisi gerakan 1000 langkah yang digusung produk tertentu namun diakhir tulisan saya dibuat tercenung dengan kalimat ….bukan lagi berapa banyak langkah yang kita buat tahun ini, tapi kemana saja langkah itu akan membawa kita pergi.

Walaupun dalam tulisannya Indra mengaku tak tahu banyak soal politik tapi di bab 3 buku ini yang berkicau mengenai Jakarta, Indonesia dan kesehatan jiwa, kita bisa tahu pengetahuan dan rasa kepedualian seorang Indra soal politik di negeri ini cukup baik. Tanpa menghakimi namun kritis. Ini bisa diliohat dalam tulisannya yang berjudul playground mahabesar bernama Negara. Tulisan yang berisi kritikan terhadap pejabat atau nagarawan yang kadang tingkah lakunya seperti komedian dan kekanak-kanakan. Entah tingkah lakunya maupun statmentnya. Dan sikap kekanak-kanakna itu tentu tentu tidak lepas dari sikap mereka saat kecil dulu. Sikap yang ditanamkan orang tua mereka. Mau menerima kekalahan kah? Jujur atau curang? Sebuah sentilan untuk para orang tua (termasuk saya) yang tidak bisa dilepaskan dari perannya sebagai penentu masa depan bangsa alias melahirkan generasi penerus.

Penjara politik dan eksklusif tidak lepas dari kritik Indra namun lagi-lagi saya sebagai pembaca dibuat kembali memikirkan pikiran saya sendiri mengenai mereka-mereka yang menikmati penjara ekslusif. Apa yang dilakukan narapidana berkantung tebal itu ada benar juga, mereka berusaha menikmati masa dipenjara, caranya ya dengan cara mendekorasi ulang penjara agar nyaman untuk mereka. Membeli tv, memakai AC, wallpaper dsb. Jadi siapa yang sebenarnya dalam penjara? Jangan-jangan saya karena isi kantung kurang tidak bisa melakukan banyak hal yang sebenarnya saya inginkan, sebut saya misalnya AC. Ya, rumah saya belum berAC. Hahahaha 

Buku yang cerdas.

Kamis, November 10, 2011

Kekuatan Cinta Mama

Judul buku : For the Love of Mom
Penulis       : Dyah Prameswarie dkk (sebuah antologi)
Penerbit     : Imania
Tahun         : Oktober 2011
Hal            : xii + 292  halaman


 review by rina susanti



Membaca tulisan –tulisan di buku ini, ingatan saya tidak bisa tidak dilepaskan dari mama saya sendiri. Ya, mungkin ini yang disebut, di mata anaknya semua mama hebat terlepas dari semua kekurangan yang mama kita miliki, salah satu yang tidak bisa kita lupakan dari sosok mama  adalah bahwa mereka selalu memberi dan senantiasa menguntai doa untuk kita. Ini sekaligus membuat saya berkaca pada diri sendiri, apakah saya sudah memberikan dan memberi contoh terbaik untuk anak-anak saya?

Diawali tulisan Deka Amalia yang menyentuh berjudul Diary  Ungu. Di dorong rasa penasaran mama membuka diary bersampul ungu milik putrinya yang tergeletak di kamar. Mama terhenyak didera keharuan dengan catatan dalam diary itu yang sebagian besar mengungkapkan kekaguman sang putri terhadap kesabaran dan perjuangannya selama ini   membimbing putrinya agar kelak menjadi seorang perempuan mandiri dengan keistimewaan yang telah diberikan Tuhan padanya. Aku ingat, saat aku kecil dulu, Mami selalu jongkok jika bicara denganku. Dia menatap mataku dengan penuh kasih.”kamu lapar? Mau minum susu? Capai ya?” pertanyaan-pertanyaan sederhana itu lama-lama mampu aku mengerti. Aku ingin menjawab, tetapi sulit sekali kukeluarkan suara. (hal 5).

Kisah  yang sepertinya cukup memancing pembaca untuk segera menikmati tulisan –tulisan berikutnya di buku ini. Tulisan  para mama mengenai sosok-sosok perempuan hebat dan inspiratif di mata mereka. Berperan sebagai mama dalam arti sebenarnya atau mengikuti fitrah perempuan sebagai seorang mama,  yang  diakoni dengan penuh suka cita seperti dalam tulisan Ibu Tiga Generasi (hal 238). Kisah mengenai Mak Anah seorang perempuan  berusia 92 tahun yang telah mengabdikan hidupnya sebagai pekerja rumah tangga dalam rentang waktu tiga generasi di sebuah keluarga. Pengabdiannya Mak Anah yang juga turut serta berperan mengasuh ketiga generasi keluarga tersebut, selain mengerjakan pekerjaan rumah tangga, membuat sosoknya di hormati dan sayangi terlebih Mak Anah tidak pernah berkeluh kesah atau mengeluh.

Untuk membahagiakan keluarganya tidak jarang seorang mama berkorban dengan menyembunyikan perasaannya sendiri seperti dalam kisah Sebuah Kepingan Kenangan dan Rahasia Ibu.       Para mama  ini tetap berusaha menjalankan kewajibannya sebagai seorang mama di tengah derita fisik yang begitu hebat. Tetap mengerjakan pekerjaan rumah, mencari nafkah dan tersenyum untuk keluarganya.  Bukti, begitu kuatnya ikatan cinta seorang mama terhadap anak dan keluarganya. Tak heran jika masalah jarak bukanlah suatu hal yang bisa merenggangkan ikatan itu. Ini tertuang dalam tulisan-tulisan para mama yang terpaksa harus jauh dari buah hatinya entah karena tuntutan pekerjaan atau kesempatan sekolah keluar kota atau bahkan luar negeri.  Beragam cara dilakukan para mama ini agar tetap bisa bukan hanya dekat dengan buah hatinya tapi turut serta berperan dalam tumbuh kembangnya. 

Namun begitu, ada kalanya, besarnya cinta seorang mama baru disadari anaknya ketika mama  telah tiada atau di detik-detik terakhir kehidupannya. Ini terjadi karena sang anak disibukkan dengan urusannya sendiri. Penyesalan dan rasa tak bersalah memang tidak akan membalikkan keadaan tapi mungkin itulah jalan yang membuat kita sebagai seroang anak tak pernah lupa melantunkan doa kebahagiannya kelak di sisiNya.

Kisah para mama dalam buku ini bisa dibilang komplit dan beragam, namun ada juga cerita yang menurut saya terlalu biasa, maksudnya tidak terlalu mempunyai nilai greget khusus. Semoga pemuatannya bukan karena dipaksakan untuk memenuhi kuota (maaf kalau terlalu kasar, hanya belajar kritis). (rs)

Kasih ibu kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
hanya memberi
tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia