Rabu, Juni 18, 2014

Memoir of a So Called Mom





Judul Buku          : Memoir of a So Called Mom
Penulis                 : Poppy D. Chusfani
Penerbit              : Gramedia
Tahun                   : 2014
Hal                          : 148
ISBN                      : 978-602-03-0314-7











Memoir Seorang Ibu

Kalau di pikir-pikir, ada kalanya menjadi ibu itu dorongan lingkungan. Sebelum terbersit jadi ibu di benak seorang perempuan, keluarga, kerabat dan teman yang ada akan mendorongnya dengan pertanyaan,”Kapan nikah?” atau,”Udah punya calon belum?” Yap, budaya Indonesia yang kekeluargaan, sering ‘menjerumuskan’ kata kekeluargaan menjadi merasa dan harus tahu urusan keluarga dan kerabat.

Itu juga yang dialami Amelia, dan sangat mungkin sebagian besar perempuan mengalami hal yang sama. Amelia menjelang usia pertengahan dua puluh dan baru lulus kuliah, saat  diberondong dengan pertanyaan kapan menikah, dari keluarga, kerabat dan teman. Pertanyaan lumrah tapi tak urung membuat banyak perempuan kecut karena terlalu sering dilontarkan dan berkesan itulah capaian seharusnya seorang perempuan.

Aku sudah kehabisan cara untuk mengelak. Kenyataan bahwa aku dan Baron belum bekerja dan belum memiliki uang untuk mulai berumah tangga tidak membuat mereka gentar.(hal 13)

Setelah menikah pertanyaan beruntun selanjutnya adalah kapan punya anak? Dan biasanya di susul dengan berbagai asumsi dari si penanya jika kehamilan yang di nanti tak kunjung tiba. Dikaitkan dengan kebiasaan dan mitos yang tak masuk akal. Pada posisi ini biasanya perempuanlah yang merasa dihakimi. Tak berlebihan rasanya jika Amelia menulis; menjadi hamil adalah perjuangan menjaga kehamilan adalah pertempuran (hal 16).

Yap, pertempuran menghadapi morning sick, sederet keluhan lain yang biasa di alami perempuan hamil dan beragam mitos yang tak masuk akal tapi dipaksakan untuk dilakukan. Seperti perihal meminum air kelapa muda yang di katanya bisa membuat bayi berkulit putih dan tidak boleh berhubungan intim dengan suami selama kehamilan. Mitos yang sudah umum ada di masyarakat. Tapi itu belum seberapa di banding saat mendengar komentar bahwa apa yang dialami Amelia hanya sebentuk sikap manja ketika memutuskan berhenti bekerja  atas rekomendasi dokter agar tidak keguguran. Amelia memutuskan penjadi pekerja lepas.
Tapi ‘perseteruan’ sesungguhnya menjadi ibu dimulai saat buah hati yang dinamainya Anika lahir. Ibu baru di hadapkan pada berbagai saran dan pilihan yang akan selalu menuai komentar positif dan negatif.  Dari mulai ASI sampai status seorang ibu; bekerja atau tidak bekerja.

Amelia sering di buat jengkel dengan komentar bahwa sebagai ibu rumah tangga, posisinya santai dan enak. Pada saat bersamaan dia juga mendengar komentar negatif mengenai ibu bekerja yang dinilai tega memberikan anaknya pada baby sitter. Dari kakak perempuannya yang seorang wanita karir Amelia melihat bahwa tidak semua ibu bekerja angkat tangan soal urusan rumah dengan alasan tidak sempat. Kakak perempuannya selalu memasak sebelum berangkat bekerja dan bisa tiba-tiba menjemput anaknya untuk membuat kejutan. Amelia justru iri karena ibu bekerja bisa memiliki jadwal yang teratur untuk melakukan banyak hal. Tidak tergantung rengekan atau kerewelan anak. Tapi dari situ Amelia menyadari satu hal, kesamaan menjadi seorang ibu adalah ikhlas berkorban. Jika seorang perempuan memilih untuk menikah dan memiliki anak, dia harus mengorbankan kepentingannya sendiri sampai ke level paling tinggi. Waktu mereka untuk diri pribadi sangat sedikit (hal 70).

Saat Anika memasuki usia sekolah, pilihan sekolah tak urung jadi komentar di antara keluarga besar. Secara tidak langsung sepertinya setiap kerabat ingin menunjukkan pilihannya yang paling benar dan baik untuk anaknya. Termasuk dalam hal merencanakan kesuksesan anaknya kelak. Pada saat bersamaan  roda kehidupan ekonomi keluarga Amelia berputar dan tibalah masa-masa sulit yaitu saat perusahaan tempat Baron, suaminya bekerja bangkrut. Keadaan ini  memperburuk kondisi perekonomian keluarganya yang pas-pasan malah dinilai miskin oleh keluarga besarnya.

Walaupun Amelia tidak menyesali jalan hidupnya namun ia sempat berandai-andai. Andai ia mengejar karir sebelum menikah seperti beberapa  temannya, andai tidak berhenti kerja dan andai Baron memiliki karir cemerlang.

Kesulitan ekonomi, nasehat dan komentar ini itu yang kadang tidak sejalan dengan standar dan  idealismenya dalam membesarkan anak di tengah ‘persaingan’ keluarga besar, membuat Amelia belajar banyak hal termasuk arti sebuah rasa syukur.

Buku yang isinya merupakan kisah inspiratif suka dukanya ibu muda perkotaan cukup banyak  tapi sangat sedikit yang di kemas dalam bentuk novel. Salah satunya novel ini, yang bercerita mengenai seorang ibu bernama Amelia dan ditulis dalam bentuk memoir.

Walaupun novel ini ditulis dalam bentuk memoir namun ditulis  gaya bahasa yang santai dan blak-blakan, khas novel metropolitan. Tapi ada beberapa kalimat yang menurut saya ungkapan atau metapora yang digunakan terlalu kasar. Seperti dalam kalimat di halaman 46. Dengan jengkel akhirnya aku menjawab, “Tidak juga. Kalau mau tahu seperti apa sakitnya, sini aku korek bola matamu pakai garpu.”


Secara konten buku ini layak di baca para perempuan dan ibu. Namun dari segi penggunaan bahasa, yang tidak pernah membaca fiksi dengan metapor kasar akan merasa tak nyaman. Penulis, lewat tokohnya Amelia, akan membuat para ibu makin menyadari bahwa menjadi ibu adalah  proses belajar dan berjuang seumur hidup.

7 komentar:

Leyla Hana Menulis mengatakan...

Aku udah lama pengin nulis novel dengan tema begini, eh udah keduluan ya mak hehe... makasih referensinya, mak :-)

Murtiyarini, Arin mengatakan...

Jujur, aku nggak suka dengan pilihan katanya. Kasar. Nggak cocok untuk bacaan ibu2.

Murtiyarini, Arin mengatakan...

Jujur, aku nggak suka dengan pilihan katanya. Kasar. Nggak cocok untuk bacaan ibu2.

Caroline Adenan mengatakan...

Kemarin liat buku ini di paper clip sekilas.. jadi penasaran pengen baca. Thanks reviewnya ya mba :)

Rina Susanti mengatakan...

kalau ada ide harus segera di tuangkan kalau gak ya keduluan ;)

Rina Susanti mengatakan...

udah sy kritik soal itu dan saya edit di paragraf akhir...soal bahasa yang bikin tak nyaman.

Rina Susanti mengatakan...

sama -sama mak oline ;)

Posting Komentar