Selasa, Oktober 29, 2013

Alternatif Sehat Tanpa Dokter


Judul Buku          : Anakku Sehat Tanpa Dokter
Penulis                 : Sugi Hartati, S.Psi
Penerbit              : Stiletto Book
Tahun                   : 2013, April
Hal                          :  187

Resensor Rina Susanti

(juara satu lomba resensi stiletto books)

Kekhawatiran orangtua saat menghadapi anak sakit kerap membuat mereka menginginkan solusi instan, alias anak sembuh secepatnya. Tak heran jika dalam masyarakat berkembang pemahaman, dokter bagus itu yang bisa menyembuhkan penyakit secepatnya.

Padahal sembuh membutuhkan proses. Jadi seharusnya orangtua curiga jika anak sembuh setelah satu atau dua kali minum obat. Yap, jangan-jangan itu karena antibiotik.  Padahal penyakit   khas anak-anak seperti flu disebabkan oleh virus sehingga tidak diperlukan antibiotik untuk penyembuhannya. 

Buku sehat tanpa dokter berisi
bagaimana orangtua menghadapi anak sakit tanpa bantuan dokter.  Yang melatarbelakangi Sugi Hartati, menulis buku ini adalah pengalaman menghadapi Devish yang  jadi sering sakit setelah di bawa ke dokter.  Penulis menduga hal itu karena antibiotik yang dikonsumsi Devish. Sebuah kenyataan yang tidak  kalah penting bahwa ketika buah hati sakit, kita pun juga bisa menanganinya sendiri tanpa bantuan dokter  (hal 4).

Beberapa penyakit flu, batuk, pilek dan diare menjangkiti anak-anak karena melemahnya daya tahan tubuh mereka. Sedangkan asma dan alergi, selain karena daya tahan tubuh lemah juga masuknya  alergen ke dalam tubuh, jadi dapat dicegah dengan menjauhkan kontak dengan alergen. Untuk meningkatkan daya tahan tubuh lakukan  dengan mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi.

Untuk mempercepat  dan mempermudah penanganan, penting mengenali 10 gejala anak sakit, diantaranya menurunnya selera makan, bersin-bersin, dan lesu.  Penulis secara lengkap  membahasnya di bab V (hal 85), termasuk tips menangani gejala anak sakit. Salah satunya saat menghadapi gejala flu (hal 102), penulis menyarankan untuk memberi anak makanan bergizi, banyak minum air putih, istirahat, dan untuk mengurangi panas  berikan minyak gosok hangat.

Alternatif penyembuhan yang disarankan penulis adalah teknik akupresur dan food therapy dengan buah, semuanya dibahas di bab VI (hal 147). Untuk teknik akupresur langkah langkah untuk melakukannya dilengkapi gambar. Sedangkan buah sebagai food therapy penulis menyertakan menuliskan beragam khasiat buah. Dibagian akhir bab ini ditutup dengan beberapa resep sehat.

Dalam kata pengantarnya penulis  menjelaskan bahwa buku ini bukan untuk mencegah orangtua ke dokter tapi sebagai  alternatif bagaimana merubah paradigma bahwa orangtua memiliki kemampuan menangani anak sakit dan penerapan gaya hidup sehat jadi prioritas. Namun  beberapa alasan tidak perlu ke dokter seperti  biaya mahal, ilmu kedokteran tidak sempurna, resiko salah obat dan menjadi objek eksperimen, yang ditulis panjang lebar pada bab 2 membuat isi buku menjadi tidak fokus pada maksud penulis.

Akan lebih tepat jika pilihan alternatif tanpa dokter ini di bandingkan terhadap pemakaian antibiotik dan obat – walaupun tepat -  adalah racun bagi tubuh. Sehingga isi buku netral, membebaskan pembaca dari persepsi negatif tentang dokter.

Dalam segi tata bahasa, ditemui banyak kalimat tidak efektif diantaranya pada hal 4 alinea 3; Sebuah kenyataan yang tidak kalah penting bahwa ketika buah hati sakit, kita pun juga bisa menanganinya sendiri tanpa bantuan dokter. Dan kalimat terlalu panjang dengan kata yang tidak efektif ; hal 35; Dalam kasus tersebut, itu artinya si anak telah minum obat yang salah. Entah apa efek samping dari berbagai obat yang telah diminumnya, sulit untuk diketahui ataupun diprediksikan apa yang akan terjadi dikemudian hari sebagai akibat dari penggunaan obat dalam waktu yang panjang itu.

Ketidakefektifan penulisan ini membuat buku tidak simple dan terkesan sulit padahal maksudnya sederhana.  Banyak juga  kalimat ditulis berulang maksudnya, diantaranya  hal 51 aline 1 dan hal 63 alinea 2. Atau penggunaan kata ‘Ya’ yang sebenarnya tidak penting.

Diluar teknis penulisan, buku ini menjadi pengetahuan baru untuk para Ibu mengenai cara penangan saat si kecil sakit tanpa perlu ke dokter dan penerapan gaya hidup sehat yang bisa mencegah penyakit. Mengutip dari halaman 4; ....ketika buah hati sakit, kita pun juga bisa menanganinya sendiri tanpa bantuan dokter. (rs).





5 komentar:

Tanti Amelia mengatakan...

Bagus mbak resensinya, memang kalimat efektif membuat sebuah buku jadi menarik. Sayang editornya mungkin kurang teliti

RedCarra mengatakan...

Hmmm, dari kemarin aku pengen beli buku ini Mak.
Karena memang suka panik duluan kalo anak sakit terutama kalo sakitnya baru.

Tapi kok rasanya jadi semacam persuasif untuk ga usah ke dokter ya kalo liat penjelasan Mak Rina di bagian "... Namun beberapa alasan tidak perlu ke dokter seperti biaya mahal, ilmu kedokteran tidak sempurna, resiko salah obat dan menjadi objek eksperimen, yang ditulis panjang lebar pada bab 2 membuat isi buku menjadi tidak fokus pada maksud penulis. "

*garuk2 kepala* jadi galau mau beli apa engga...

Ima Rochmawati mengatakan...

hampiiiir... ima ambil buku yang satu ini. Kemaren ini diantara 2 pilihan, baca sekilas di toko buku, buku ini rekomended pisan buat ibu jadi lebih pede ngurus anak yg lg sakit :)

punyahannawilbur mengatakan...

Selamat ya, Mbak. Mksh udah 'colek' sy di Fb. Maaf gak bisa komen karena akun kita belum 'temenan' ^^'. Sekali lagi, selamat! Semoga barakah.

Dwi Aryanti mengatakan...

Selamat ya sudah menang lomba reviewnya. Saya juga mau coba lomba review buku selanjutnya ah

Posting Komentar