Jumat, Oktober 04, 2013

@Anak Juga Manusia


Judul Buku          : @Anak Juga Manusia
Penulis                 : Angga Setyawan
Penerbit              :Noura Books (grup Mizan)
Tahun                   : Mei 2013
Hal                          : 175
ISBN                      : 978-602-7816-32-9

Anak Juga Manusia

Resensor Rina Susanti

resensi ini dimuat juga koran jakarta edisi 20 september 2013 bisa cek  di sini

Beberapa orangtua tidak menyadari, pentingnya belajar jadi orangtua, akibatnya mereka kerap dibuat bingung dengan perilaku anak dan mudah melabeli anak dengan kata-kata negatif. Padahal perilaku yang dilabeli orangtua negatif seperti tidak mau diam dan tantrum  adalah tahapan yang harus dilalui anak karena dorongan rasa ingin tahu yang besar dan emosinya yang belum stabil.

Banyak cara untuk bisa memahami tingkah laku anak-anak  dan belajar caranya menjadi orangtua.  Browsing melalui internet, membaca buku parenting, ikut seminar, pelatihan atau konsultasi dengan psikolog anak. Memang perlu waktu dan biaya tapi jumlah itu akan sebanding dengan hasil yang di dapat. Karena perlakuan orangtua terhadap anak akan menjadi bekal dalam mengarungi kehidupannya  kelak.  Mempersiapkan diri sebagai orangtua adalah tentang bagaimana kita berproses untuk mendidik diri sendiri.  Karena diperlukan kesabaran, pengorbanan dan sikap menerima anak apa adanya. 

Buku ini, berawal dari sebuah kultweet dan tweet dengan akun @anakjugamanusia, yang karena mendapat banyak respon positif, penulis membukukannya dengan melakukan penambahan agar buku ini lengkap. Seperti judulnya yang menggelitik, isi bukunya pun cukup menyentil para orangtua untuk menilik kembali pola asuh yang diterapkan selama ini. Marah saat anak berbuat salah, memukul, mengancam atau mempermalukannya di depan umum. Padahal anak adalah manusia yang membutuhkan teman untuk tumbuh dan belajar dalam prosesnya menjadi dewasa.

Berikut adalah beberapa tweet dalam buku ini;

@anakjugamanusia Mendidiklah bukanlah semata transfer pengetahuan saja, tetapi juga menyiapkan anak-anak agar sanggup mendidik dirinya sendiri sepanjang hidup (hal 21)

Menjejali anak dengan beragam keterampilan tanpa mengukur kemampuan anak dengan dalih untuk kebaikan masa depan. Namun yang kerap dilupakan orangtua adalah menanamkan kesadaran atau melatih bahwa belajar adalah kebutuhan hidup. Akibatnya anak-anak hanya mau belajar ketika disuruh atau dipaksa. Pola ini terbentuk hingga mereka dewasa, sehingga proses belajar mereka berhenti selepas kuliah. Padahal hidup adalah proses belajar tiada henti.

Setiap anak punya peluang untuk sukses. Tugas kita bukanlah memastikan keberhasilan mereka. Tugas kita adalah mendorong mereka untuk berani mencoba. Karena berani mencoba adalah awal sebuah perjalanan (hal 44).
@anakjugamanusia kebahagian bukanlah karena anak mencapai sesuatu yang besar di depan sana, tetapi karena kita bersyukur pada hal-hal kecil yang akhirnya berkumpul menjadi besar (hal 59).

@anakjugamanusia Anak-anak suka sekali mengeksplorasi benda-benda yang ada di sekitarnya. Memang begitulah cara mereka belajar, tetapi kadang orangtua terlalu cepat melarang (hal 65).

Padahal seharusnya orangtua jadi fasilitator anak untuk belajar dan hindari terlalu banyak melarang.
@anakjugamanusia semua anak terlahir dengan keyakinan ‘belajar itu asik karena bermain’, tetapi kita singkirkan keasyikan itu dengan menyuruhnya duduk diam di depan meja (hal 107).

Banyak orangtua mengidentikkan belajar sama dengan duduk manis sambil membaca dan atau menulis. Sebaliknya, anak yang bermain terus di labeli, nakal atau malas belajar, padahal bermain bagi seorang anak adalah proses dia belajar dan memahami sesuatu. 

Apa yang dilakukan Nancy Elliot, ibu dari Thomas Alva Edison, mungkin bisa dijadikan contoh. Ketika Thomas Alva Edison dikeluarkan dari sekolahnya ibunya berkata,”Tidak apa-apa, Nak, mulai besok kamu akan belajar dengan Mama.”

Ketika Thomas bertanya sesuatu hal yang tidak dapat dijawab oleh ibunya dan oleh siapapun, ibunya berkata,”Nak, Mama akan bantu kamu untuk cari di buku-buku di perpustakaan.” Bahkan, pernah ibunya membantu Thomas mencari sebuah jawaban di buku-buku perpustakaan selama hampir satu bulan (hal 87).

Semua anak genius, tugas orangtua adalah menyediakan diri dan hati membantu mereka menemukan apa yang disukai dan dijalani dengan potensi yang mereka miliki. Semua anak sempurna jika  orangtua mau melihat dan memahami mereka dengan hati dan menerima anak apa adanya.

Orangtua seharusnya mau terus belajar dan  meng upgrade diri untuk bisa mendukung tumbuh kembang anak agar kelak menjadi pribadi yang matang, mandiri, memiliki kemauan untuk terus belajar dan sukses dalam kehidupan sosial bermasyarakat. (rs)


2 komentar:

Virgorini Dwi Fatayati mengatakan...

Kalau menurutku anak memang ladang pendidikan Mbak, mendidik kita untuk sabar, kreatif, cerdas dan lebih banyak lagi pendidikan yang kita dapat dari anak. Kalau dari pandangan lahiriah sepertinya kita yang mendidik mereka ya, padahal sebenarnya kita juga sedang dididik oleh mereka. Banyak ilmu yang kita dapat secara tak sengaja saat kita berkecimpung dengan mereka.

Rina Susanti mengatakan...

setuju, kita di didik mereka supaya lebih sabar n bijak ya...:)

Posting Komentar