Jumat, Maret 14, 2014

Menanti Cinta



Judul Buku          : Menanti Cinta
Penulis                 : Adam Aksara
Penerbit              : Mozaik Indie Publisher
Tahun                   : 2014
Hal                          : 221
Menanti Cinta

resensor rina susanti
Cinta itu pengorbanan, begitu kata sebuah pepatah. Klise, tapi begitulah kenyataannya. Demi mengejar cinta apa pun dilakukan walaupun kadang kala pengorbanan yang dilakukan melampaui ‘logika’.
Seperti yang dilakukan Alex pada Claire, gadis miskin putri seorang pelacur. Demi membebaskan Claire dari perlakuan tidak senonoh atasannya di Mark’S Burger, tempat Claire bekerja paruh waktu, Alex membeli tempat tersebut dengan cara memaksa dan mengancam pemiliknya. Agar Claire bisa nyaman menunggu jam pulang kuliah, Alex mengusulkan membuka perpustakaan lama di kampusnya. Supaya kuliah Claire tetap bisa berjalan, Alex memberi beasiswa ‘khusus’. Untuk memberikan Claire kehidupan normal, aman dan nyaman, Alex membayar kedua orangtua Claire untuk pergi dari kota itu. Claire menjadi apa yang diharapkan Alex, tinggal aman dan nyaman di sebuah rumah besar yang tak lain adalah rumahnya.
Sekilas pengorbanan yang dilakukan Alex mengingatkan saya pada dongeng-dongeng khas ‘princess’ masa lalu. Putri yang lemah dan menderita, di selamatkan pangeran ganteng dan kaya raya.
Claire memang di deskripsikan cantik, sedangkan Alex walaupun kaya raya, dia cacat, kakinya terserang virus polio saat dia kecil.
Bunga-bunga cinta mulai tumbuh di diri Claire begitu ia tinggal di rumah Alex. Sempat terjadi konflik batin, pada Claire maupun Alex, mengenai makna cinta dan rasa kasian akhirnya keduanya bersatu dalam ikatan cinta.
Tapi akan kah cinta keduanya menyatu dalam ikatan sakral yaitu pernikahan?
Gaya penceritaannya cukup mengalir, hanya saja menurut saya penulis mendeskripsikan kemiskinan dan penderitaan Claire dengan berlebihan bahkan berulang. Deskripsi seperti ini (bukan deskripsi alur) kurang memberi ruang untuk membaca bereksploitasi dengan imajinasinya. Mungkin maksudnya untuk memberi efek emosi pada pembaca, tapi bagi saya sendiri jadi terkesan cengeng. Terlebih Claire menangis untuk hal-hal kecil, seperti saat ketangkap basah makan di perpustakaan. Menilik latar belakang Claire yang selalu di siksa ibunya dan hampir diperkosa ayah tirinya, harusnya hal sepele seperti itu membuatnya kuat. Cengeng bukan saja  berarti mudah menangis tapi soal sikap yang lemah sebagai perempuan.
Kritik memang tidak bisa lepas dari selera pembaca, mungkin karena saya tidak suka tokoh perempuan cengeng dan lemah, jadinya gregetan. Begitupun Alex di adegan Alex menangis. Saya bukan anti lihat cowok menangis, tapi gentlemen biasanya menangis hanya untuk hal-hal luar biasa.
Ada beberapa cerita yang kurang logis, tentang Alex yang sebelum 15 tahun, seorang diri (tidak diceritakan dibantu),  sudah melakukan puluhan percobaan membuat produk kimia dan kemudian membuat pabrik dengan dukungan kakak-kakaknya.  Menurut saya akan sulit sekali melakukan percobaan kimia seorang diri dengan kondisi Alex yang cacat.  Saya sudah merasakan belajar dan praktikum (plus kerja) kimia soalnya hehehe selama hampir 20 tahun. Menurut saya sich akan lebih masuk akal jika kekayaan Alex misalnya di dapat dari perusahaan yang diwariskan orangtuanya, jadi dia hanya menjalankan.
Dan soal Alex dan Claire yang tinggal serumah dengan status pacar tentu sah-sah saja (bagi yang berpandangan sah lho ya, bukan saya hhehe) tapi menjadi tidak etis karena di rumah itu ada kost-kost mahasiswa dan mahasiswi, efeknya kan kurang bagus apalagi profesi Alex dosen.
Duh, kok jadi kebanyakan kritiknya ya....
Yang pasti cinta tidak pernah membebani walaupun harus banyak berkorban, begitu kira-kira pesan dari buku ini yang saya tangkap.


8 komentar:

catatan kecilku mengatakan...

Kritik penting untuk kemajuan dan perbaikan penulis ke depannya Mak...
Mak Rina cukup kritis dalam membaca novel tsb. Dan itu bagus sekali.
Tapi karena ini 'katanya' berdasarkan kisah nyata.... jadi aku gak tahu bagian mana yang nyata dan bagian mana yang fiktifnya.

Efi Fitriyyah mengatakan...

Ngeri juga sama kenekatan Alex yang dengan mudahnya mendapatkan apa saja yang diinginkan.

Rina Susanti mengatakan...

n agak ga logis, walaupun fiksi harus ada sisi logisnya, jadi kayak sinetron menurut saya hehehe

Rina Susanti mengatakan...

kritis karena selera juga mba hehhee

Kania Ningsih mengatakan...

Iya saya sempat berfikir kok jenius banget ya USIA belasan udah bisa buat produk yang bagus..

Ila Rizky mengatakan...

hehe iya ya, mba. apalagi di usia yang sangat muda :D baca karakter ini kok jadi keinget conan edogawa ya

Rina Susanti mengatakan...

sebenarnya bikin produk kimia tinggal tambah bahan2 mba, yang repot itu melakukannya (praktik - percobaan) bukan merendahkan orang cacat, tapi klo praktik gitu susah kayakny kalau dalam posisi duduk terus , n karena bahan kimia 'beracun' (beracun dalam arti gak smp menyebabkan mati) perlu mobile , cepat

Rina Susanti mengatakan...

mungkin karakternya terinspirasi dari sna ila, saya kurang sregnya cinta model princess dongeng disney ...;P

Posting Komentar