Selasa, November 24, 2009

Review buku The Road to Allah

Judul buku : The Road to Allah
Penulis : Jalaluddin Rakhmat
Penerbit : Mizan

The Road to Allah
Oleh: Rina Susanti

Wahai Yang membolak-balikkan hati dan pandangannya,
Teguhkan selalu hatiku dalam agama-Mu.
Janganlah Kau gelincirkan hatiku setelah Kau berikan petunjuk kepadaku.
Curahkanlah kepadaku kasih sayang-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi Anugerah
Lindungilah aku dari api neraka.
Ya Allah, panjangkalah usiaku, luaskanlah rezekiku,
Taburkanlah padaku kasih sayang-Mu.
Jika aku pernah tertulis sebagai orang yang celaka,
Masukkanlah aku kepada kelompok orang yang beruntung dan bahagia karena Kau menghapus apa yang Kau kehendaki dan menetapkan apa yang Kau kehendaki, semuanya Kau tuliskan dalam ummul kita…(hal 308).

Jalaludin Rahmat atau biasa disebut Kang Jalal. Bagi saya membaca-baca buku Kang Jalal selalu memberi saya sesuatu yang baru. Pencerahan atau pengetahuan baru. Beliau tidak saja fasih bicara soal komunikasi , ketauhidan pun dibahasnya dalam bahasa lugas, moderat namun tetap berpijak pada alqur’an dan sunnah. Keidentikan kang Jalal dengan Syiah tak jarang membuat sebagian orang menarik diri sebelum membaca gagasan-gagasannya. Sebagai orang awam, dengan kapasitas pemahaman agama islam yang sangat-sangat terbatas, saya membaca dan berusaha memahami isi buku ini untuk bisa menjaga ghirah ibadah saya, terlepas dari kesyiah- annya. Walaupun tidak dikatagorikan buku terbitan baru tapi isi buku ini tak lekang oleh waktu.

The Road to Allah atau jalan menuju Allah merupakan kumpulan kajian keislaman kang Jalal di mesjid Al-Munawwarah, yang kemudian di susun menjadi sebuah buku seperti di tulis pada kata pengantarnya. Buku ini di bagi menjadi lima bagian dimana setiap bagiannya sekaligus merupakan tahapan perjalanan ruhani menuju Allah swt.

Perjalanan ruhani atau penyucian diri menuju Allah swt atau biasa diistilahkan dengan tasawuf, diawali rasa cinta. Hanya dengan cinta ibadah dan pengabdian terhadap Allah swt dilakukan dengan tulus dan hati bersih. Karena sesungguhnya kekuasaan Allah swt yang meliputi segala sesuatu tidak membutuhkan ibadah dan pengabdian makhluknya. Rasa cinta, terlebih pada sesuatu yang abstrak dalam hal ini Allah swt, tidaklah datang dengan sendirinya. Yang perlukan adalah belajar mencintai.

Pelajaran mencintai tahap dasar adalah belajar mencintai makhluk Allah; pasangan kita, anak-anak . Selanjutnya kita harus berusaha mencintai hal-hal yang bersifat abstrak. Mengutip sebuah hadis; “Cintailah Allah atas segala anugrah-Nya kepadamu, cintailah aku atas kecintaan Allah kepadaku, dan cintailah keluargaku atas kecintaanku kepada mereka.”

Perjalanan selanjutnya adalah meninggalkan perbedaan. Perbedaan pendapat atau mazhab tak jarang memunculkan perselisihan. Masing-masing merasa pendapat ulama (mazhab) nya yang paling benar. Yang perlu disadari adalah, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dan harus diterima selama tafsirannya berasal dari rujukan yang sama Alqur’an dan sunnah Rasulullah saw. Seperti pendapat kang Jalal tentang keutamaan jihad, yang mungkin berbeda dengan ulama lain. Dalam bukunya ini kang Jalal berpendapat, jihad yang paling utama adalah berbakti pada orang tua dan memenuhi hak pada keluarga terlebih dulu, dengan merujuk QS Bani Israil ayat 26). “Berikanlah hak pada keluarga yang dekat, lalu orang miskin, orang yang berada dalam perjalanan, dan janganlah kamu berbuat boros seboros-borosnya.”

Singkatnya perjalanan manusia menuju Allah swt adalah perjalanan kesucian. Sebuah proses pembersihan diri yang dapat dilakukan melalui tiga hal; istighfar, taubat dan melakukan amal shaleh. Kecenderungan diri merasa lebih baik dari orang lain, bangga diri terhadap amalan yang telah dilakukan, bersikap ujub dan terpancing untuk ghibah menjadi penghalang proses pembersihan diri. Namun pernghalang itu dapat dilalui jika kita bisa mengendalikan diri, mengendalikan nafsu, berdoa untuk memperoleh hati yang khusyuk, berzikir, membalas kebencian dengan kasih sayang berkhidmat dan membersihkan hati dari hasad.
Mengutip sabda nabi saw;”orang yang hebat itu bukanlah orang yang dengan muda membantingkan kawannya. Orang kuat adalah orang yang mampu menguasai nafsunya ketika marah.”

Perihal nafsu, dalam bahasa arab dua syahwat itu teriri dari ‘syahwat seks’ dan ‘syahwat perut’.syahwat perut tidak terbatas pada makan dan minum. Kedalamnya termasuk segala cara memuaskan kesenangan-kesenangan fisik dengan uang. Istilah tepatnya mungkin perilaku konsumtif.

Hati yang khusyuk berarti mampu menghadirkan Allah swt dalam setiap perbuatan. Sehingga apapun yang kita lakukan didasari karena Allah dan hanya takut kepada-Nya. Ajaran kesucian lain yang mampu mendekatkan kita kepada Allah swt adalah membalas kebencian yang diterima dengan kasih sayang. Ini mengingatkan saya pada kisah yang dialami nabi saw dan seorang kafir yang selalu meludahi nabi saw setiap beliau lewat. Sampai suatu hari nabi tidak mendapati ludah yang mendarat di tubuhnya. Beliau bertanya kemana gerangan orang yang biasa meludahinya. Ternyata orang itu sakit lalu beliau menjenguknya. Sejak saat itu orang kafir itu masuk islam.

Zikir adalah amalan yang tidak dibatasi waktunya, bisa dilakukan kapan dan dimana saja. Allah swt berfirman dalam QS Al-Jumuah (62): 10; Setelah selesai menunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah, dan berzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya. Supaya kamu beruntung.”

Manusia sering mengorbankan kesehatannya, tubuhnya, bahkan jiwanya demi harta. Oleh karena itu, pengkhidmatan dengan harat adalam islam lebih didahulukan daripada pengkhidmatan dengan jiwa. Contoh pengkhidmatan dengan harta yang merupakan salah satu rukun Islam adalah mengeluarkan zakat.

Rasullullah saw bersabda; “Hasad memakan habis kebaikan seperti api memakan habis kayu bakar.” Hadis ini menunjukkan bahaya besar hasad atau kedengkian, yang bisa menghancurkan seluruh amal saleh yang kita lakukan. Hasad dapat diartikan sebagai kebencian terhadap nikmat yang diperoleh orang lain dan keinginan agar nikmat itu lepas dari orang terebut. Hasad hanya dapat dihilangkan dengan pengobatan melalui amal. Beramal melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perasaan dengki kita.

Penyucian diri adalah suatu perjalanan yang terus menerus, jika berhenti pada proses ini, akan jatuh kembali ke tingkat serendah-rendahnya. Salah satu gangguna paling besar dan berbahaya ketika mendekati Allah swt adalah kepuasaan diri (I’jab). Merasa kagum akan kesucian diri yang telah dicapai. Ketika timbul perasaan inilah seseorang kembali ke tingkat paling dasar. Untuk itu kita senantiasa Untuk itu kita senantiasa dianjurkan selalu memohon kepada Allah swt agar kita diberi Husnul Khatimah, akhir yang baik. Supaya Allah swt selalu meneguhkan langkah-langkah kita.

Kamis, Oktober 15, 2009

Review dan diskusi buku The Forgotten Massacre

By : Rina S dan Hendi Johari
forgotten massacreJudul Buku : The Forgotten Massacre
Penulis : Peer Holm Jorgensen
Penerjemah : Ingrid Nimpoeno
Penerbit : Qonita (grup Mizan) Juni 2009
Halaman : 442

Akhir pekan kemarin saya mendapat kesempatan hadir di diskusi buku The Forgotten Massacre di Gramedia Gran Mall Indonesia. Sebuah novel fiksi yang ditulis berdasarkan kisah nyata penulisnya. Seorang pelaut berkebangsaan Denmark, Peer Holm Jorgensen. Selain penulisnya sendiri yang hadir pada diskusi itu hadir juga seorang sejarawan LIPI, Bapak Asvi Warman Adam.

Diskusi ini memang bukan sekedar mendiskusikan isi buku tapi kaitan sejarahnya. Ini membuktikan bahwa sastra tidak bisa tidak untuk terlibat dalam persoalan politik.

Pasca keruntuhan orde baru, pembicaraan mengenai tragedi 30 September 1965 bukan hal yang tabu atau masuk dalam katagori subversif. Bahkan beberapa buku dan hasil penelitian mengenai berbagai teori konspirasi dan kudeta ini telah diterbitkan. Ada yang berpendapat CIA lah yang bertanggung jawab terhadap tragedi ini. Ada juga yang menduga ini merupakan kudeta yang dirancang mantan presiden Soeharto. Atau dugaan yang menyebut skenario ini dibuat oleh Inggris dan Amerika yang bertujuan untuk menggulingkan Soekarno.Dengan begitu kemunculan novel karya Peer Holm Jorgensen ini tidak terlalu membuat ’greget’.

Mungkin akan sangat berbeda jika saja kemunculan novel ini saat orde baru masih berkuasa. Dan yang membedakan novel ini dengan novel-novel serupa (dengan latar pasca tragedi 30
September 1965) tak lain karena penulisnya seorang berkebangsaan asing (Denmark) yang memungkinkannya memberikan sudut pandang yang berbeda dan ditulis berdasarkan pengalaman pribadi.

Review Buku

Tokoh utama dalam novel ini seorang bernama Kasper, seorang asisten koki di sebuah kapal kargo. Sedari kecil Kasper bermimpi untuk bisa berlayar melintasi benua-benua. Dibenaknya ada Jens Bjerre dan Jorgen Bitsch, para penjelajah yang menceritakan ekspedisi-ekspedisinya. Mimpinya terwujud saat ia berusia 16 tahun.

September 1965. Kasper tiba di pelabuhan Tanjung Priok, Indonesia, dengan kapal Clementine. Bersamaan dengan itu perusahaan perkapalan memindahkan Kasper ke kapal lain. Kapal itu bernama Jessie. Selama menunggu kedatangan kapal barunya, Kasper menghabiskan waktunya di daratan dan pergi ke bar yang tak jauh dari situ, London Bar. Salah satu pramusajinya, Nadia, seorang gadis keturunan Belanda, menarik perhatiannya.

Kasper kembali bertemu dengan Jimmy, kenalan yang ditemuinya pertama kali saat kunjungan pertamanya ke Tanjung Priok September 1963. Kedekatannya dengan Nadia mulai terjalin setelah Kasper menolongnya dari kejahilan para pelaut Jerman. Sebagai imbalannya, Nadia merawat Kasper yang mengalami babak belur akibat pengeroyokan. Saat itulah Nadia mulai menceritakan siapa sebenarnya dirinya. Ayahnya seorang berkebangsaan Belanda yang dengan alasan studi kembali ke Belanda meninggalkan dirinya, yang saat itu berumur 2 tahun, beserta ibu dan neneknya. Saat berusia 14 tahun, ibunya meninggal karena kanker. Setelah itu ia tinggal bersama kerabatnya sebelum akhirnya bekerja sebagai pelayan Bar untuk menghidupi dirinya sendiri.

Perempuan yang kemudian diam-diam dia sukai itu ternyata sudah memiliki seorang pacar. Seorang pelaut berkebangsaan Jerman.


Inti novel ini selain bercerita tentang persahabatan antara Kasper dan Jimmy juga cintanya terhadap Nadia. Kita akan mengikuti pandangan Kasper mengenai kolonialisme dan pandangan orang kulit putih terhadap kulit berwarna. Ia menemukan kenyataan;
ada banyak tempat yang sangat makmur, dan pada saat yang sama ada banyak tempat yang sangat miskin hanya karena beberapa negara ingin merampok kekayaan negara lain dan memperoleh kekuasaan atas rakyatnya (hal 19).Seperti perumpamaan tentang Indonesia. Dalam pandangan Kasper Indonesia layaknya perempuan yang sudah tamat, dipakai lalu dibuang seperti pelacur tua di Shanghai. Pandangan yang tidak berlebihan mengingat eksploitasi yang dilakukan berabad-abad oleh Portugis, Belanda dan Inggris secara bergantian.

Melalui deskripsi persinggungan keseharian Kasper selama di Tanjung Priok dengan petugas pelabuhan, penyewa sepeda dan anak-anak yang mengemis-ngemis untuk meminta uang, membawakan payung atau mengipasi, pembaca dibawa membayangkan seperti apa Indonesia tahun 1965. Penulis mengisahkannya dengan tuturan objektif. Sekedar bagian dari sebuah cerita. Begitu pun saat Kasper menceritakan tentang pemeriksaan petugas dan atau tentara yang mencari barang berharga yang disembunyikannya. Mulanya Kasper mengira bahwa petugas memeriksa dengan melucuti semua baju dan disuruh (maaf) menungging adalah sekedar isu.


Novel setebal 442 halaman ini lebih banyak menceritakan pandangan Kasper tentang gejolak politik dunia yang terjadi saat itu. Komunis versus demokrasi liberal. Amerika versus Uni Sovyet. Dan posisi negaranya, Denmark, dalam percaturan politik pasca perang dunia itu. Dan simpul dari pandangannya itu akan terkait dengan masa kecilnya. Simpulan dan pencarian kebenaran sejarah yang selama ini ia alami dan dapatkan dari pelajaran sekolah. Membaca bagian ini agak melelahkan dengan sedikit diburu rasa penasaran, mencari puncak konflik cerita. Penulis terlalu panjang memberikan narasi ihwal pikiran dan pandangannya sendiri. Yang sedikit sekali hubungannya dengan inti cerita dari novel ini. Yang bisa dikatakan puncak konflik, menurut saya, sekaligus yang menarik benang merah dengan judul novel ini adalah saat Jimmy dibunuh begitu juga adik perempuannya, Sophia, sekaligus mengakhiri cerita novel ini.


Jimmy dan Sophia dibunuh di sungai gerong saat hendak menyebrang ke Palembang. Keduanya dituduh terlibat partai komunis hanya karena ikut gerakan pemuda komunis, sekedar untuk bisa berdansa setiap akhir pekan. Jimmy dan sophia di bunuh saat hendak sungai saat hendak Sedangkan kisah cinta Kasper sendiri terhadap Nadia berubah menjadi persahabatan walaupun Nadia dicampakkan pacarnya yang berkebangsaan Jerman.


Dalam novel ini bisa dikatakan, penulis (Peer Holm Jorgensen) secara tidak langsung berpendapat bahwa CIA lah dalang di balik tragedi ini. Dengan menempatkan beberapa bab berisi uraian dan percakapan anggota-anggota CIA, dengan tokoh utama Ed Rossen. Dalam bab – bab ini juga penulis menceritakan bagaimana skenario kudeta itu tercipta. CIA terlibat karena Indonesia dianggap berbahaya. Ideologi komunis yang diamini Soekarno memungkinkan komunis menyebar ke seluruh Asia Tenggara dan ide anti neokolin secara nyata akan menggangu roda perekonomian Amerika.


Perusahaan-perusahaan besar Amerika yang telah menanamkan modalnya di Indonesia – salah satunya perminyakan – dipaksa angkat kaki. Namun dicatatan ’latar belakang penulisan’ penulis tidak memberi penjelasan lebih tentang hal ini. Apa tokoh Ed Rossen sekedar khayalan? Apa konspirasi buatan CIA itu berdasarkan bukti?


Sebuah novel tetap novel yang tidak lepas dari imajinasi penulisnya. Sejauh mana kesamaan novel ini dengan bukti sejarah?


Berikut adalah hasil obrolan nyantai teman saya
Hendi Johari dengan sejarawan LIPI: Asvi Warman Adam, sesaat setelah diskusi buku selesai.

Bung Asvi, 11 tahun sudah Orde Baru tumbang, namun pemerintah yang berkuasa hari ini masih saja melanjutkan tradisi memperingati 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Komentar anda?

Ya pertama soal ini memang sangat kontroversial karena menurut saya 1 Oktober itu tidak ada hubungannya dengan kesaktian Pancasila. Bahwa itu dilakukan untuk mengenang 6 jenderal yang tewas,itu betul. Kedua, Presiden, Wakil Presiden atau para pejabat tinggi negara tidak wajib untuk datang ke Lubang Buaya karena mengacu kepada Surat Keputusan Menteri Utama Pertahanan dan Keamanan,Soeharto pada 29 September 1966 peringatan itu hanya diwajibkan khusus untuk seluruh kesatuan Angkatan Bersenjata tidak untuk di luar tentara.
Saat ini bagaimana seharusnya sikap pemerintah terhadap kejadian 39 tahun lalu tersebut?
Saya pikir pemerintah harus lebih adil dan berimbang. Bahwa kita harus mengutuk terbunuhnya 6 jenderal,saya setuju saja. Tapi terbunuhnya 500.000 rakyat Indonesia lainnya sesudah itu, saya pikir itu juga bukan suatu peristiwa yang lantas dilupakan begitu saja.
Ok kita masuk ke soal pembantaian itu.Sebenarnya jumlah yang riil itu berapa sih,Bung?
Banyak versi soal ini. Sarwo Edhie (Komandan RPKAD) menyebut angka 3 juta.Yang terkecil menyebut angka 78.000. Lalu Ben Anderson 500.000.Saya sendiri cenderung menilai angka 500.000 lebih realistis.
Dalam novelnya Peer menyebut-nyebut CIA sebagai pihak yang harus bertanggungjawab atas penjagalan tersebut…
Secara keseluruhan CIA bukan pemain tunggal dalam peristiwa itu. Ada negara lain juga seperti Inggris dan Australia. Tapi untuk soal pembantaian orang-orang PKI itu memang dalam sebuah dokumen yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika Serikat disebutkan bahwa mereka mengakui memberikan daftar nama-nama anggota PKI kepada pihak Angkatan Darat. Walapun jumlahnya hanya ribuan tidak sampai ratusan ribu. Lantas mengapa jadi 500.000? Karena dalam kenyataannya di lapangan banyak improvisasi, yang bukan PKI saja bisa dibantai.
Daerah mana saja yang saat itu menjadi ladang pembantaian?
Tentu saja Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali. Itu yang terbanyak. Sisanya terjadi di Lampung, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Aceh, dan Sulawesi Selatan.
Soal itu semua disebutkan dalam dokumen CIA?
Tidak. Enggak langsung CIA yang menyebutkan. Jadi begini,arsip-arsip itu merupakan hasil laporan para staff Kedubes AS di Jakarta pada 1965. Waktu itu Dubesnya Marshall Green. Saat era dia, jumlah staff kedutaan dikurangi hanya 40 dan itu hampir sepertiganya agen CIA.
Mungkin ada agen CIA yang berkulit coklat?
Mungkin saja itu
Beberapa waktu yang lalu bahkan disebut-sebut Adam Malik adalah salahsatunya?
Saya sudah bantah itu.Itu tidak benar karena hanya dikatakan oleh seorang Clyde McAvoy (mantan agen CIA di Jakarta).Hanya dia yang mengatakan itu.Terlebih sekarang dia pun sudah meninggal pula. Jadi dalam ilmu sejarah, pernyataan itu tidak bisa dipertanggungjawabkan karena dinilai hanya keterangan sepihak. Terlebih data tertulisnya pun tidak ada.
Lalu link yang menghubungkan antara CIA dengan AD apakah sudah terketahui?
Oh sudah.Kalau itu sudah.Salah satunya ya lewat Adam Malik itu. Amerika kan pernah ngasih duit 50 juta rupiah ke Angkatan Darat via sekretarisnya Adam Malik yang bernama Adiyatman.Tentu saja sepengetahuan Adam Malik.
Itu tidak cukup menjadi bukti bahwa Adam Malik sebagai agen CIA?
Ya tidak dong. Tapi bahwa dia menjadi penghubung CIA-AD:iya.
Mengapa CIA memilih Adam Malik?
Ya pertama secara ideologis Adam Malik yang Murba itu musuhnya PKI. Kedua, secara pribadi Adam Malik memiliki hubungan dekat dengan petinggi-petinggi Angkatan Darat.
Konon bantuan CIA pun sampai meliputi jaket-jaket yang dipakai anak-anak UI?
Ya itu kata Manai Sophian.Tapi saya pikir kalau dalam bentuk barang misalnya jaket enggalah. Kalau uangnya yang dibelikan jaket itu mungkin saja. Saat itu, Amerika selalu berusaha mendukung gerakan yang tujuannya menjatuhkan Soekarno.
Di arsip luar negeri Amerika Serikat pada 1965 disebut-sebut mereka memberi juga bantuan alat-alat komunikasi…
Ya itu memang betul.Jadi ada disebutkan bantuan alat-alat komunikasi kepada Indonesia sejumlah $ 2.000.000. Tapi pas menyebut detail alat komunikasi itu,tulisannya kok dihitamkan.Ini kan aneh,kalau alat komunikasi beneran kenapa harus dihitamkan? Wajar kalau lalu nalar saya bilang itu pastinya senjata karena enggak mungkinlah alat-alat komunikasi harganya sampai segitu.
Dalam peristiwa G30S, posisi PKI sendiri menurut anda bagaimana sebenarnya?
Dalam pidatonya di depan Sidang MPRS pada 1967, Bung Karno pernah mengatakan peristiwa G30S merupakan pertemuan 3 sebab: keblingernya pimpinan PKI dengan Biro Chususnya, subversi nekolim:Inggris,Australia dan Amerika Serikat serta adanya oknum yang tidak bertanggungjawab.Siapa? Bisa Soeharto, bisa Untung, bisa Latief. (hendijo)
Sejarah tak pernah mengenal kata akhir. Demikian kata Dominick LaCapra. Seolah mengamini kata-kata sejarawan Amerika itu, Peristiwa Gerakan 30 September atau Gerakan 1 Oktober 1965 pun tak pernah berhenti dibicarakan dan dibahas. Dan memang hingga kini tak ada kepastian sejarah siapa di balik kejadian berdarah 39 tahun lalu:orang terus mengira-ngira dan menganalisanya dengan berbagai teori dari waktu ke waktu.
Dalam pidatonya di depan Sidang MPRS pada 1967, Bung Karno pernah mengatakan peristiwa G30S merupakan pertemuan 3 sebab: keblingernya pimpinan PKI dengan Biro Chususnya, subversi nekolim:Inggris, Australia dan Amerika Serikat serta adanya oknum yang tidak bertanggungjawab.Siapa? Bisa Soeharto, bisa Untung, bisa Latief. (hendijo)
bedah buku
Juga di muat di :
http://baltyra.com/2009/10/13/the-forgotten-massacre/


Senin, September 14, 2009

Memaknai kembali Shadaqoh

oleh: rina s

Tulisan ini saya nukil dari sebuah buku berjudul Keajaiban Shodaqoh dengan penulis Muhammad Muhyidin. Semoga menjadi inspirasi untuk berbuat lebih baik di bulan mulia ini.

Perumpamaan shodaqoh seperti menanam di kebun. Pasti berbuah, kalaupun buahnya tidak lebat paling tidak berkembang. Ada juga yang mengumpamakan shodaqoh dengan memberi hutang. Hanya saja dalam hal ini, Allah swt yang akan melunasinya.

Shodaqoh dalam pengertian yang paling umum adalah memberi sesuatu kepada orang lain. Dalam pengertian ini agama-agama lain mengajarkan hal serupa, memberi. Tapi makna shodaqoh hanya ada dalam ajaran islam. Yang membedakannya adalah;
Katakanlah kepada hamba-hambaKu yang telah beriman: ‘hendaklah mereka mendirikan sholat, menafkahkan sebagian rejeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi atapun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan. (QS. Ibrahim: 31)

Penulis menyebutnya sebagai pemiskinan makrifatullah, ketika seruan untuk bershodaqoh diiming-imingi keutamaan dan keajaibannya dan akhirnya orang melakukan shodaqoh agar memperoleh keutamaan atau keajaiban shodaqoh. Padahal tujuan shodaqoh adalah mendekati dan berada dekat dengan Allah swt. Hal ini terkait dengan kesimpulan dari beberapa hadits nabi Muhammad saw dan kisah para sahabat, yang menyebutkan empat keutamaan shodaqoh; Pertama, shodaqoh mengundang datangnya rejeki. Kedua, menolak bala, ketiga dapat menyembuhkan penyakit dan keempat shodaqoh dapat memanjangkan umur.

Adapun keutamaan atau keajaiban shodaqoh hanyalah efek dari ‘memberi’ yang kita lakukan. Tentunya efek ini hanya timbul jika kita ‘memberi’ dengan benar, yaitu disertai ketulusan dan keikhlasan. Efek ini dapat diperoleh tanpa memandang apakah seorang muslim atau bukan yang melakukannya. Banyak kita dengar atau membaca kisah keajaiban shodaqoh – dalam hal ini memberi – yang dilakukan orang-orang non muslim dan mereka mendapat keajaiban itu. Keajaiban shodaqoh itu juga tercermin dalam ungkapan – ungkapan mereka. Salah satunya yang pernah diungkap Henry Ford Sr......’sesungguhnya sukses dimulai dari memberi.’ Ini terkait dengan sifat ar-Rahman dan ar-Rahim Allah swt. Dengan ar-Rahman-Nya, Allah memanjangkan rejeki, memanjangkan umur, menyelamatkan dari bencana dan menyembuhkan penyakit. Ar-Rahman diberikan Allah swt pada semua makhluk tanpa memandang islam atau bukan . Sedangkan ar-Rahim hanya diberikan Allah swt kepada orang beriman dan bertaqwa (muslim) kelak di akhirat.

Ada istilah yang disebut penulis dengan ‘seni bershodaqoh yang keliru’, yang menyebabkan shodaqoh tidak memberikan dampak spiritual dan sosial pada pemberi maupun penerima shodaqoh.

Seni bershodaqoh yang keliru (1), Memuat tujuh kekeliruan dalam hal cara menyampaikan shodaqoh. Diantaranya memberi shodaqoh karena lebih bukan yang baik. Disadari atau tidak, hal ini yang dipahami masyarakat luas ketika menyebut perintah shadoqoh. Hak heran kita sering mendengar ungkapan, “Boro-boro shodaqoh mas, buat makan aja susah.” Atau memberikan sesuatu yang dinilai pemiliknya tidak layak pakai, alias barang bekas. Atau memberi ‘sisa’. Sisa masakan kemarin untuk pembantu atau tetangga yang dinilai tidak mampu. Padahal seruan bershodaqoh adalah memberi yang baik. Ukuran besar, kecil, sedikit atau banyak disesuaikan kemampuan.

Seni bershodaqoh yang keliru (2), berkaitan dengan tujuan shodaqoh. Satu diantara tujuh kekeliruan itu adalah berharap balasan. Disadari atau tidak, dengan bahasa lugas atau tersirat. Seperti mengharapkan ucapan terima kasih sehingga saat si penerima shodaqoh tidak berterima kasih, pemberi shadaqoh menggerutu. ”kok gak bilang terima kasih sich.”


Empat bab selanjutnya dalam buku ini, membahas logika dari empat keajaiban shodaqoh yang telah disebutkan di atas. Seperti kaitan shodaqoh dan rejeki. Penulis mengumpamakan pemberi shodaqoh seorang guru dan penerima shodaqoh sebagai muridnya. Dengan logika, guru yang mengajarkan ilmu kepada muridnya tidak membuat ilmunya berkurang sebaliknya malah bertambah. Begitupun shadoqoh yang diberikan tidak akan membuat harta berkurang.

Shodaqoh tidak sekedar memberi. Dalam ajaran islam, shadaqoh adalah perintah dari Allah swt dan harus dilakukan karena Allah swt.