Rabu, Februari 27, 2013

SUPER MOM


Judul buku    : Stop Jadi Super Mom
Penulis          : Tim Parenting Indonesia
Penerbit         : Dinamika Media Internasional
Tahun                        : November 2012
Hal                  : 122

The choices we make. Keputusan tetap bekerja walaupun sudah memiliki anak tentu bukan tanpa alasan. Alasan yang berbeda untuk setiap mama. Perasaan  bersalah karena tidak mendampingi tumbuh kembang anak dan tidak setiap waktu ada di sampingnya adalah hal wajar. Rasa bersalah yang pada saat tertentu mungkin membuat mama menitikkan air mata. ehm, apakah setiap rasa bersalah akan berakhir menjadi drama menyedihkan? Mama lah pemegang kendali perasaan-perasaan itu. 

Love your Family
Selalu ada solusi dan banyak cara untuk menjadi mama yang baik dengan tetap bekerja. Memanfaatkan setiap waktu yang dimiliki dengan si kecil secara maksimal dan berkualitas adalah salah satu caranya. Rubah ritual pagi yang selalu membuat anda merasa sibuk sekaligus panik menjadi pagi yang menyenangkan caranya, mama harus bangun lebih awal dan menyiapkan sebagian keperluan anak sejak malam.

Dengan siapa si kecil saat mama bekerja? Ditip nenek, baby sitter atau daycare? Apapun pilihan mama, pahami ‘aturannya’ agar kendali tetap berada di tangan mama dan tumbuh kembang si kecil tidak terganggu.

Kesibukan sebagai mama bekerja tidak berarti lepas tangan dari urusan sekolah anak dengan menyerahkan semuanya pada guru sekolah atau guru lesnya. Pahami trik memdampingi anak mengerjakan prnya dan jadilah pusat informasi ketika berada di rumah bagi anak.

Si kecil sakit tidak akan membuat mama terlalu panik jika tahu gejala dan pertolongan pertama pada  beragam penyakit yang khas pada anak-anak. seperti flu batuk pilek, demam, diare, flu singapura, amandel dst. Pada buku ini bisa dilihat di halaman 22. Persaingan kakak adik dan memastikan asupan makanan yang sehat untuk si kecil adalah hal  lain yang di hadapi para mama. Pahami bahwa setiap naka unik dan tidak bisa dibanding-bandingkan. Beri waktu untuk si kakak dan adik dengan porsi sama. Untuk masakan sehat pilih menu yang praktis untuk membuatnya.

Love your career
Isak tangis si kecil setiap kali anda berangkat kerja bukan alasan untuk mama tidak meng up grade kemampuan diri di kantor.  Tetapkan skala prioritas dengan konsisten namun fleksibel. Peta/kuadran penting vs genting manajemen waktu menurut Steven Covey  bisa anda terapkan.

Begitupun sebaliknya, kesibukan kantor bukan alasan untuk tidak memberikan ASI secara maksimal dengan mempelajari tips menyusui dan memerah ASI untuk mama bekerja. Curi waktu agar mama bisa aktif di sekolah si kecil. sesekali menghadiri komite sekolah atau hadir di moment-moment istimewa si kecil di sekolah.

Jangan lupa rehat sejenak dari kesibukan kerja dengan melakukan stretching di meja kerja. Jaga penampilan agar nampak profesional.

Manfaatkan kemajuan teknologi (gadget) untuk mendukung aktivitas mama sebagai seorang mama sekaligus profesional. Gadget apa saya yang wajib dimiliki para mama? 

Love your Life
Dua kesibukan, sebagai mama dan pekerja, membutuhkan mental dan kondisi fisik sempurna. Tingkatkan kebugaran dengan istirahat cukup, konsumsi makanan bergizi dan olahraga. 

Mama ingin menikmati sebuah novel atau menulis blog tanpa interupsi si kecil atau suami, hal yang wajar dan sudah seharusnya mama memiliki waktu  untuk diri sendiri. Tak perlu merasa bersalah. Salah satu kunci kebahagian adalah memiliki waktu untuk diri sendiri.
Mencuri waktu untuk ‘berbulan madu’ kembali adalah kebutuhan. Nonton midnight di bioskop berdua suami atau janji bertemu after office hour untuk makan malam yang romatis.

Buku ini di bagi dalam tiga bab besar yaitu love your family, love your career dan love your life. Tiga bab  yang menggambarkan keseimbangan dan kondisi ideal yang dicapai mama.
Beragam tips untuk mencapai keseimbangan itu ditulis dengan bahas ringan, perpoint  disertai foto full colour yang menarik sehingga tidak membosankan saat di baca. Tips yang ditulis mudah diterapkan karena disesuaikan dengan kondisi mama bekerja. Plus resep menu praktis dan tenpat weekend yang menarik untuk dikunjungi bersama keluarga di Jakarta.

Buku ini banyak diselipi iklan produk yang sesuai kebutuhan keluarga jadi untuk mama yang tidak terbiasa atau merasa terganggu, anggap saja buku ini sebuah majalah.

Senin, Desember 10, 2012

Cerita dalam Secangkir Kopi




Judul Buku          : Blue Romance
Penulis                 : Sheva
Penerbit               : Plotpoint
Tahun                  : September 2012
Hal                      : 215
Cerita dalam Secangkir Kopi

Mencicipi secangkir affogato di sabtu pagi di Blue Romance adalah sebuah ritual khusus bagiku. Sebuah rutinitas yang aku sukai. Aku tidak suka kejutan, sejak ibu dan bapakku secara spontan pergi ke luar kota lalu mengalami kecelakaan yang menewaskan mereka. Dulu ibu selalu menyiapkan sarapan sabtu pagi dengan sepiring wafel dengan es krim cookies and cream seperti yang tengah aku nikmati saat ini. Hujan bukan kejutan yang aku harapkan di pagi ini tapi aku enggan pulang selain tidak membawa payung. 

Hari ini aku bertemu dengan orang yang, secara garis besar, memiliki banyak kesamaan denganku. Penyuka kopi. Pemuja sarapan.Yatim piatu. Lucu sekali. Kami mengobrol. Lalu dia pergi tanpa pamit, hanya meninggalkan lembaran-lembaran post itu kuning bergambar dengan satu pertanyaan next Saturday how about?  Dan aku menunggunya di sabtu minggu berikutnya dan dia datang pukul sebelas lewat. Tak lama hujan turun. Kami tertawa kecil. ia mengulurkan tangannya dan menyebut namanya. Aku tersenyum, dan ikut memperkenalkan diri.

Cerita  di atas adalah satu dari tujuh cerita yang tertulis dalam buku Blue Romance, nama sebuah coffee shop. Dan dari tempat inilah cerita-cerita dalam buku ini  dimulai. Seperti Rika yang membuat janji bertemu dengan Nico, teman masa kecilnya di coffe shop ini. Atau Kai yang bertemu Chantal, seorang anak yang mencari keberadaan ayahnya. Ketujuh cerita dalam buku ini adalah sebuah cerita pendek yang tidak berhubungan satu sama lain. Masing-masing membawa kisah kehidupan berbeda namun dengan satu kesamaan  tokoh-tokoh dalam buku ini adalah menikmat kopi. Seperti penulisnya.

Setiap kisah dibuka dengan definisi racikan kopi yang disuka tokoh utamanya. Seperti  dalam cerita The Coffee and Cream Book Club. Coffee and cream:  kopi berbasis espresso, disajikan dengan krimer dan gula yang bisa ditambahkan sesuai keinginan pelanggan. Sedikit banyak kehidupan punya kemiripan rasa yang sama dengan  kopi. Manis, pahit, dingin, hangat atau panas. Mungkin itu yang ingin disampaikan sang penulis. 

Kekuatan Sheva terletak pada detail deskripsi dan bahasa yang mengalir tapi kurang kuat pada karakter tokoh, sehingga saat membaca ketujuh cerita ini saya merasa mendapati kesamaan tokoh. Bukan karena semua tokoh penikmat kopi seperti penulisnya jika saya katakan sifat dan kesukaan tokoh dalam cerita-cerita ini pun adalah penulisnya, karena banyaknya kemiripin antara tokoh utama dalam setiap cerita.  Mungkin ini yang membuat cerita dalam buku ini kurang greget walaupun thema yang diangkat cukup beragam. 

Cerita-cerita dalam buku ini pun tidak terlalu membuat ‘penasaran’ karena selalu ditutup dengan ending terbuka. Salah satu kekuatan sebuah fiksi adalah kejutan dan ‘touch’ deskripsi tokoh yang menguatkan karakter. Beberapa cerita bisa ditebak endingnya dan ini membuat pembaca tidak terlalu tertarik untuk membaca setiap lembar buku  sampai tuntas.

Senin, September 10, 2012

Thanks God is Monday




Judul Buku      : I Love Monday
Penulis             : Arvan Pradiansyah
Penerbit           : Kaifa (grup Mizan)
Tahun              : Maret 2012
Hal                  : 299










Kalimat ‘I don’t like Monday’ atau ‘thanks God it’s Friday’ yang kerap terlontar bahkan menjadi  stigma    tanpa disadari telah membentuk mindset kita mengenai hari senin yang penuh penderitaan. Bayangan setumpuk pekerjaan, deadline, meeting-meeting panjang, wajah bos bahkan kemacetan sudah dibayangkan sejak minggu malam.

Arvan Pradiansyah dalam bukunya ‘I Love  Monday’ mengajak kita menemukan penyebab  dan solusi ‘Monday Morning  Blues’ yang melanda lebih dari 50% pekerja. Dan ternyata cara pandang kita terhadap pekerjaanlah yang membentuk stigma hari senin yang buruk ini. Bagaimana anda memandang pekerjaan anda? Sebagai cara untuk bertahan hidup (survival)? Untuk mencapai kesuksesan dalam hidup? Atau mencapai kebahagian sejati?

Monday Morning blues terjadi pada orang yang melihat pekerjaan sebagai serangkai tugas (job) yang harus dilakukan walaupun tidak disukai, dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam ini uang. Sebaliknya orang yang bergairah menghadapi hari senin adalah orang yang meyakini setiap energi yang dikelaurkan nya untuk bekerja adalah jalan untuk mencapai kesuksesan . orang –orang ini sangat menyukai pekerjaannya karena pekerjaan itu adalah passion mereka. Mereka tidak memikirkan beratnya pekerjaan mereka atau gajinya yang kecil yang mereka impikan adalah impian besar mereka.

Tapi pencapaain tertinggi adalah ketika anda melihat pekerjaan untuk mencapai kebahagian sejati. Anda menyadari pekerjaan anda adalah panggilan suci atau calling dari yang Maha Kuasa. Anda menyadari untuk pekerjaan itulah anda diutus oleh yang Maha Kuasa. Dengan pekerjaan itulah anda  memberi manfaat bagi orang lain. Dalam posisi ini anda akan melihat bahwa pekerja bukan sekedar untuk hidup tapi untuk kehidupan. Melayani dan berbagi. Anda tidak akan berpikir berapa uang yang akan anda dapatkan karena anda menyadari esensi dari pekerja adalah untuk melayani dan memberi manfaat sebanyak-banyaknya untuk orang lain.

Menemukan Calling

Jika anda belum merasa pekerjaan anda bukan calling anda artinya anda belum menemukan jawaban untuk apa anda diutus yang Maha Kuasa ke dunia ini. Padahal  Tuhan menciptakan kita untuk menjadi ‘somebody’ menjadi orang yang hebat di bidang kita masing. Namun  Tuhan menyampaikannya secara halus dan implisit melalui apa yang kita sukai, apa yang kita inginkan dan impikan dan apa yang membuat kita senang melakukannya. Dengan demikian, hakikat bersyukur adalah menerima pemberian Tuhan dan mengekplorasinya agar bermanfaat bagi orang lain.

Ada dua pilihan ketika anda sudah menemukan calling anda tapi ternyata tidak sesuai dengan pekerjaan anda saat ini. Sehingga anda selalu membenci hari senin dan berguman. Pekerjaan ini bukan passion anda akibatnya anda mengerjakan pekerjaan anda tidak maksimal dan menyebabkan karir anda jalan di tempat sepanjang anda pekerja walaupun sudah bertahun-tahun.

Pertama, tinggalkan pekerjaan anda dan bekerjalah sesuai calling anda. Kedua, jika itu tidak memungkinkan karena anda takut dengan resikonya maka bersyukur dan belajarlah mencintai pekerjaan anda dengan sungguh-sungguh.  Sehingga pekerjaan itu akan memunculkan perasaan berharga, berguna dan bermanfaat bagi orang banyak.

Sadarilah sesungguhnya anda bekerja untuk Tuhan.

Sayangnya dalam bukunya ini Arvan tidak sedikitpun menyinggung atau melihat dalam persfektip ibu bekerja. Mungkin tidak semua, tapi pada ibu bekerja terutama yang memiliki anak balita kerap tersisa rasa bersalah karena kembali bekerja (monday)  berarti bersiap dengan tangisan anak yang melarang ibu bekerja. Bagaimana menyiasati perasaan ini?