Senin, Desember 15, 2014

Bahagia Ketika Ikhlas



Judul Buku          : Bahagia Ketika Ikhlas  
Penulis                 : Rena Puspa
Penerbit              : Elex Media Komputindo
Tahun                   : 2014
Hal                        : 186
ISBN                    : 978-602-02-4557-7

Bahagia Ketika Ikhlas

Salah satu kebahagian seorang perempuan adalah ketika menyandang gelar ibu. Tuhan pun melengkapinya dengan naluri keibuan yang berkembang secara alami melalui proses kehamilan, melahirkan dan menyusui.

Hormon-hormon yang bekerja pada ketiga proses itu sebenarnya yang membuat seorang wanita selalu ingin menyempurnakan perannya sebagai ibu. Perasaan ingin menyayangi, merawat, memelihara dengan penuh kesungguhan dan kasih sayang sebenarnya memang di dominasi oleh peran hormon-hormon yang ada pada proses kehamilan, kelahiran, dan menyusui, yaitu adanya hormon estrogen, progesteron, oksitosin, dan dopamin. (hal 3)

Namun pada saat yang bersamaan peran ibu menimbulkan rasa cemas karena banyak perubahan yang terjadi dari mulai rutinitas, perubahan fisik, maupun psikologis. Kecemasan yang juga pernah saya alami.

Perubahan fisik yang umumnya di cemaskan adalah gemuk dan  tidak cantik. Setelah bayi lahir dan menyusui, kecemasan lebih terfokus pada bayi. Cemas ASI tidak mencukupi, tidak bisa mengurus bayi, rasa bersalah berlebihan membayangkan kelak bayi akan di tinggal bekerja, yang semuanya berujung pada rasa sedih dan merasa tidak berharga. Kecemasan yang sebenarnya merupakan gejala bahwa ibu mengalami baby blues sydrome.

Baby blues sydrome di alami 50%-80% ibu baru melahirkan dan umumnya akan hilang dengan sendirinya. Namun pada beberapa kasus bisa berubah menjadi depresi yang berkepanjangan dan akut. Kondisi ini biasanya tidak di sadari ibu ataupun orang-orang di dekatnya, sampai si ibu melakukan tindakan berbahaya seperti menghabisi sendiri nyawa anaknya dengan alasan sayang. Beberapa contoh kasusnya bisa di baca di halaman 10.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Perubahan hormon selama proses hamil, melahirkan dan menyusui sangat berpengaruh, jadi bisa di katakan setiap ibu  memiliki peluang stres yang sama. Namun dari berbagai macam peran ganda yang di emban  ibu, yaitu ibu bekerja, ibu bekerja dari rumah dan ibu rumah tangga, maka ibu rumah tanggalah yang memiliki peluang stres lebih besar.

Ada tiga alasan utama yang menyebabkan ibu rumah tangga memiliki peluang stres lebih besar yaitu perasaan minimnya apresiasi atau penghargaan yang diberikan,  merasa tidak memiliki aktualisasi diri dan akibat peran ibu itu sendiri yang harus mengurus berbagai pekerjaan rumah tangga, anak dan suami dalam waktu hampir bersamaan. Ehm, setelah melepas label working mom setahun silam, saya tahu rasanya stres karena pekerjaan rumah tangga yang tak kunjung habis, harus mendampingi anak-anak pada saat bersamaan ingin menikmati waktu untuk diri sendiri.

Sebagian masyarakat memahami konsep aktualisasi diri dengan pencapaian besar yang dilakukan di luar rumah atau karir padahal menurut teori Maslow yang di kutip dalam buku ini (hal 5), aktualisasi diri adalah hasrat untuk mengoptimalkan pontensi diri, tanpa sekat di luar atau di dalam rumah.

Dan solusi agar ibu tidak terjebak dalam stres tapi bahagia  adalah ikhlas dalam menjalani peran sebagai ibu, dalam suka maupun duka. Konsep ikhlas dalam buku ini dibangun dari pemahaman terhadap surat Al-Ikhlas (QS ke - 112   dalam Al-Qur’an) yang artinya Esa, yaitu saat hati dan pikiran hanya di fokuskan untuk Allah swt semata.

Sikap ikhlas sejati bukan sebuah sikap menerima apa adanya namun sedang menekan rasa kecewa, tapi sebuah penerimaan yang tulus dengan kondisi apa pun termasuk saat sedang mengalami kekecewaan, di mana kekecewaan itu tidak kita tekan keberadaannya, namun kita terima apa adanya dengan penuh ketulusan sebagai bagian dari diri kita (hal 108).

Artinya, ikhlas sejati bukan sikap menerima dengan cara menekan rasa kecewa, tapi menerima dengan  tulus kondisi sulit yang menimpa sebagai bagian dari diri kita.

Ikhlas mudah di ucapkan tapi sulit di praktikkan, ungkapan itu mungkin kerap kita dengar. Jadi bagaimana agar ikhlas mendatangkan kebahagian dan ketenangan? Paparannya di jelaskan pada hal 164.

Pada bab 5  penulis memaparkannya dengan rinci bagaimana meraih bahagia dengan konsep ikhlas yang dibarengi dzikir (doa) akan melahirkan sikap tidak mudah menyerah.

Sikap syukur yang terjadi sebagai bentuk pelaksaan konsep ikhlas yang tepat, akan membuat orang ingin bergerak melakukan yang terbaik tanpa henti, dan selalu ingin lebih memaksimalkan potensi  terbaik dirinya, karena dia paham semua yang dia terima adalah amanah dari Allah yang harus selalu dia maksimalkan potensinya seoptimal mungkin (hal 117).

Di bab sebelumnya yaitu bab 4, penulis memaparkan bagaimana menanamkan kebahagian dengan tetap menjadi diri sendiri walaupun pilihan yang kita ambil tidak sesuai keinginan. Ini sesuai dengan ungkapan bahwa kebahagian itu pilihan bukan takdir. Artinya, baik ibu rumah tangga, ibu bekerja ataupun ibu bekerja dari rumah memiliki peluang bahagia yang sama karena  kita sendiri yang menentukan mau hidup bahagia atau tidak. 

Sedangkan pembahasan secara rinci mengenai dua faktor utama penyebab stres yaitu hormonal dan eksternal ada di bab 2 dan 3. Di kedua bab ini penulis memberikan beragam tips bagaimana mengelola emosi dan kesibukan agar tidak menjadi memicu stres. Seperti managemen membereskan beragam kegiatan domestik  rumah tangga yaitu mencuci mencuci, memasak dan menyetrika. Kiat dalam menjalani berbagai peran sebagai ibu bagi anak balita, anak, remaja dan sebagai istri di paparkan juga dalam bab 3.

Di bab 6 sekaligus bab penutup, penulis meluruskan  konsep bahagia dan sukses yang selama ini dipahami dengan cara bersebrangan, meraih sukses dengan mengorbankan kebahagian atau sebaliknya. Lalu bagaimana mencapai kesuksesan dengan bahagia? Jawabannya ada di bab ini.

Kekurangan buku ini terletak pada tata bahasa.  Terdapat kalimat-kalimat panjang yang tidak efektif, dua kata bermakna sama dalam satu kalimat,  dan pengulangan  kata.

Seperti di hal 4; Kebanyakan para ibu rumah tangga biasa (full time mom) kesulitan memaknai peran besarnya sebagai seorang ibu, hanya karena mereka diam saja di dalam rumah itu artinya tidak berarti dan tidak bermanfaat.

Mungkin maksud kalimatnya seperti ini; Kebanyakan para ibu rumah tangga biasa (full time mom) kesulitan memaknai peran besarnya sebagai seorang ibu, mereka merasa tidak berarti dan tidak bermanfaat karena berdiam diri di rumah.

Dan stres yang bertumpuk jika tidak dikelola dengan baik akan berubah menjadi fenomena bola salju, yang semakin hari semakin membesar, sehingga akhirnya efek stres itu akan menutup potensi – potensi baik yang sejatinya sudah ada pada diri seorang ibu.

Terdapat dua kata dengan makna sama pada kalimat di atas. Makna fenomena bola salju adalah semakin lama semakin membesar. Kata sehingga akhirnya dan efek, menunjukkan akibat atau efek.

Atau penggunaan kalimat; tidak melulu hanya yang bisa di reduksi menjadi tidak hanya atau tidak melulu karena maknanya sama.

Pengulangan kata ‘dia’, double  kata sambung di paragraf 2 hal 116,  dapat dihilangkan agar kalimat menjadi efektif dan tidak bertele-tele. Begitupun pada paragraf 3 hal 117.

Kesalahan yang sama di jumpai di halaman lain. Kesalahan yang seharusnya tidak terjadi jika editor* lebih teliti.

Tanpa  bermaksud sengaja mencari-cari kekurangan buku ini tapi karena terbaca begitu saja.  semoga bisa menjadi masukan jika buku di cetak ulang. 

Menurut saya penggunaan kalimat efektif dan lugas penting agar mudah di pahami dan dicerna pembaca terlebih ini adalah buku non fiksi dan bersifat selp help.

Hal lain adalah contoh kasus di hal 10 mengenai ibu yang membunuh 3 anaknya akibat depresi. Menurut saya nama universitas dan kalimat...kerudung panjang yang dikenakannya bla bla, tidak perlu di tulis karena memberi kesan subjektif dan tendensius.

Secara keseluruhan, isi buku ini bagus, karena penulis bukan hanya mengajak pembaca memahami bagaimana meraih kebahagian dengan konsep ikhlas juga membuat paham konsep aktulisasi diri. Pemahaman ini bisa melecut para ibu, terutama ibu rumah tangga untuk menggali potensi dirinya dan berkarya dari rumah.  

Walaupun  buku ini lebih ditujukan untuk para ibu rumah tangga yang rentan stres tapi direkomendasikan untuk  semua ibu karena potensi stres ada di mana-mana. Di buku ini juga penulis memberikan kiat singkat agar ibu bekerja tidak dilanda perasaan bersalah berlebihan karena meninggalkan anak saat bekerja caranya dengan menerapkan konsep ikhlas. 

Kebahagian seorang ibu akan menciptakan rumah tangga harmonis dan  anak-anak yang  tumbuh dengan bahagia dan optimal, kunci untuk meraihnya adalah menerapkan konsep ikhlas dalam menjalani peran sebagai ibu. (rs)

ket:

*Saya tidak menemukan nama editor tercantum di buku ini.


Resensi ini diikutsertakan dalam Giveaway Bahagia Ketika Ikhlas



0 komentar:

Posting Komentar